lovely picture

Tuesday, November 12, 2013

Suppose..

Suppose I am an Accounting-maniac.. I would just go to the library and study taxation.
Suppose I am a genuine Accountant I would take online courses and anything related to Accounting.

Who am I really? I would rather work hard on my econometrics textbook rather than financial accounting. When today's taxation class was canceled, i went to library and got my self working on Behavioral Economics, reading and having fun with the quizzes. Though behavioral economics is an informal class, it is not my formal study.

Who am I really? Wakarimasen TT

Wednesday, November 6, 2013

On My Own

Alhamdulillaah, just one more day for the midterm. Accounting Practice. 1 credit only but so much work! Goodluck you girl, you're wonderful :)

These days aren't easy lately. How time flies and just so many things to catch up with. Sometimes you do feel alone. You do feel you can't go on. Then, Les Miserable's musical comes into mind.

And now I'm all alone again nowhere to turn, no one to go to
without a home without a friend without a face to say hello to

Sometimes I walk alone at night
When everybody else is sleeping

The city goes to bed
And I can live inside my head
*On My Own-Eponine

I know that theres really no time we are all alone. I know that in every pain, there is strength inside. Dear God, keep my faith and be strong.

Tuesday, November 5, 2013

Twinkle Little Traveler





Namaku Liliana. Orang-orang lebih  suka memanggilku Lian. Lian terdengar lebih singkat dan mudah diingat. Namun, secara estetika Liliana adalah nama yang indah. Nama yang begitu pas dengan wajah dan penampilanku yang amat Asia. Seorang gadis yang sejak lahir sangat mudah dikenali karena karakteristiknya yang sangat berbeda di antara jutaan bayi berkulit putih lainnya yang tinggal di benua berpenduduk mayoritas kaum pendatang berkulit putih ini. 

Sebaiknya aku sedikit bercerita tentang asal-usulku. Meski sejujurnya, aku tak begitu suka membuka sejarah hidupku kepada sembarang orang. Akan sangat panjang dan berbelit. Intinya adalah aku memang wanita Asia yang menemukan rumah di benua lain. Rumah Keluarga Edward yang mengadopsiku langsung dari tanah kelahiranku di Nanjing, Cina.

Aku sudah terlalu lama dan terlalu sering berpindah dari rumah keluarga angkatku di pelosok Washington, sebuah kota kecil bernama Walla Walla. Mungkin seperti halnya orang Jogja yang seringkali menganggap mereka  yang berasal dari daerah Bantul dan Gunungkidul adalah pinggiran. Tentu jika mereka tidak ingin menyebutnya kampungan, katrok, maupun ndheso. Ya, begitulah Walla Walla, kota kecil tempat air mengalir dengan keasrian dan ketenangannya seperti halnya Bantul yang projo taman sari dan Gunungkidul yang tut wuri handayani. 

Aku meninggalkan rumah bersejarah itu tentu bukan karena aku tak terima dianggap pinggiran dan kampungan sebagai seorang Walla Walla. Hanya satu dorongan kuat yang menghujam di hatiku. Aku ingin terbang ke angkasa, membuka mataku pada kesemestaan alam semesta. Karena aku  ingin mengepakkan sayapku.  Merasakan kehangatan alam raya, menghirup udara di benua lainnya, menatap langit dari berbagai belahan dunia, meresapi gemerisik dedaunan, menantang terik sang surya yang bertahta, dan merengkuh titik-titik air yang sesekali tercurah dengan berpijak pada tanah seberang yang bernaungkan langit luas tanpa batas. 

Bukankah alam adalah pelajaran indah yang seringkali terabaikan ketika kita terlena dengan keadaan? Bukankah itu yang disebut para muslim sebagai bagian dari hijrah yang indah, mengenal semesta dan pemilik-Nya? Bukankah itu juga yang dianggap para penganut ajaran suci lainnya sebagai pilgrimage, sebuah perjalanan suci? Perjalanan yang pada intinya membuka mata hati kepada semesta dengan esensi spiritualitas luar biasa ketika kita pun mulai sadar akan keajaiban-keajaiban dalam setiap perjalanan yang kita lakukan. Yang tak terlupakan, setiap kali tengah dalam perjalanan, meski hanya makan di ­­­­­restoran, berjalan di antara taman-taman kota, masuk kampus biru, bahkan mengunjungi tempat-tempat baru selalu saja orang ternganga melihat mata sipitku dan kulit Asiaku yang tak sepadan dengan identitas diriku yang menurut mereka “begitu barat”. Begitulah mereka yang baru mengenalku dan melihat pasporku Amerika, mereka akan berkomentar dengan keheranan yang sama. Betapa darah Asia ini tak mampu kusembunyikan dalam tulang tubuhku yang telah secara legal dicap sebagai US citizen.

Tahun ini misi perjalananku adalah Indonesia. Bukan perjalanan ala kolonial dengan 3G-nya, God, Glory, Gospel. Perjalanan ini dituntun oleh personal passion into the pursuit of life bliss. Murni panggilan jiwaku. Sebuah tekad kuat untuk mencari kebahagiaan. Mencari sebuah tempat yang bisa kusebut rumah. Ketika aku merasa aku ingin melihat banyak hal dengan lebih dekat. Perjalanan yang secara teknis memang hadiah atas kelulusanku dan keberhasilanku diterima sebagai freshman (mahasiswa baru) di sebuah universitas ternama. Maka, seperti remaja Amerika umumnya, aku pun mendapat kado traveling spesial dari papa dan mama. Indonesia menjadi pilihan pertamaku. Ya, Indonesia, bukan Eropa atau lainnya. 

(to be continued)

Sunday, October 27, 2013

Muda Karya, Mati, Muda Bahagia

Apa kau punya harapan yang ada dalam hidupmu?
Muda karya, mati, muda bahagia.
????
Kau tahu, kematian seperti pertanyaan besar yang tak bisa terjawab hingga ia tiba pada saat yang tepat. Karenanya aku ingin merindukan kematian. Aku ingin mengharapkan kematian. Di mana aku bisa melihat kenyataan, keabadian, bukan kesemuan. Kini aku masih memiliki kehidupan yang harus kujalani dengan penuh harapan. Muda karya. Hingga kematian itu datang aku adalah muda karya. Dan hingga kematian mendekap kita. Harapan kita sama. Muda bahagia selama-lamanya.


#random

Motivation Booster

Salah satu jurang pemisah antara kondisi kita sekarang dan keberhasilan yang seharusnya bisa kita raih sekarang adalah perbedaan jarak antara rencana dan eksekusi tersebut. Kita sering punya rencana, tetapi tidak sanggup mengeksekusi, dengan segala alibi kita. Konsekuensinya jelas: kita tidak bisa ke tempat yang seharusnya bisa kita capai. Semakin jauh jarak tersebut, maka makin lebar pula jarak kita dengan impian kita.
Kita tidak tahu kapan kesempatan akan datang pada kita. Satu-satunya cara untuk menjamin agar kita siap ketika kesempatan itu datang adalah mempersiapkan diri setiap waktu, dengan menunjukkan yang terbaik, agar saat kesempatan itu datang, kita berada dalam kondisi yang siap.


Disunting dari: A Call for Youth, Sebuah Blog yang Menginspirasi


Warna Senja

Katakan padaku bahwa senja masih biru
warna ranumnya belum menjadi jingga

lalu apa yang bisa kukatakan padamu

meski senja masih biru
meski senja masih muda
meski senja belum menjingga

sungguh tak ada yang bisa kujanjikan
bahwa ia akan selamanya biru

17feb12

Sunday, October 13, 2013

TFAS

I found this as a great opportunity :D
http://www.tfasinternational.org/?programs=aipe&details=true