lovely picture

Friday, December 13, 2013

Twinkle Lil Star-PianoGuys

This is relaxing piece. A lullaby played gracefully.


\http://thepianoguys.com/portfolio/twinkle-lullaby-twinkle-little-star/




Mom, Ilyn, thank you for the music-the songs I'm singing. Thanks for all the joy that's ringing.
The joy of first year piano. I do miss learning the music. I do miss the recitals.

Thursday, December 12, 2013

Semangat!

Sedang tidak bisa tidur dengan tenang. Selesai satu bab Perpajakan yang saya merasa sangat awam. Masih kurang menulis rangkuman tiga bab lagi. Tulisan tangan. Merasa saya benar-benar tidak paham. Seperti nostalgia jaman SMP nggarap soal Pajak juga nggak seribet di bangku kuliah ini. Huf huf huf. Tidak mau mengeluh hanya saja sejujurnya, membaca buku Akuntansi itu rasanya belum senikmat membaca rumus-rumus. Seriusan. Rasanya rumus masih tetap lebih baik daripada logika yang masih sulit dipahami dari bahasa dewa yang di Akuntansi.

Dan di saat-saat di mana perasaan tidak menentu, kepala mau pecah rasanya. Simply kadang bingung mau belajar dari mana. Dan di saat itulah Tuhan tuh justru menampar saya. Bahwa di titik di mana kamu nggak ngerti apa-apa, nggak bisa apa2. Di saat itulah kamu harus ngasih apa yang kamu punya. Ya, adek saya yang di Bantul sana. Anak kelas 3 SMA yang paling alergi matematika dan fisika malem2 datang hanya untuk begadang itu mantan pelajaran yang saya suka. Sebenarnya ketika seharian kuliah pulang maghrib lalu lanjut belajar bareng habis isya itu luarbiasa banget. apalagi otak mulai hang.. Resistor, kapasitor, apa? Induktif, kapasitif.. Rasanya sudah asing. Apa apa? Mikir lama istilahnya.. Ah ini kenapa pusing sekali bermain2 bahasa dengan term2 yang jauh berbeda dengan dunia sekarang. Lucunya, kami beda sma. Tapi guru fisika kami sama. Ah, saya kangen 'hiburan' 'iseng' nya pak Jumiran. Hiburan iseng itu istilah untuk tugas dan ulangan :)))

Ya Tuhaan, tugasnya luarbiasaaa . Sampai bingung mulai dari mana, eh akhirnya ke blog hehe.

Anyway, akhir tahun banyak sekali kejadian. Bahkan tadi pagi, mendapatkan suntikan motivasi dari seminar yang diadakan dashboard Ekonomika Kerakyatan. Keynote dari sang Jendral ngenaa.. "Belajarlah ke manapun, tapi hadapkanlah hatimu untuk rumahmu Indonesia." Jadi keingat sama teman2 Sigulempong... Sigulempong itu bocah2 bina antarbudaya th2008/2009. "Lebih baik di sini rumah kita sendiri." Banyak banget iilmunya pengen aku salin catatan di sini cuma mungkin lain waktu. Banyak inspirasi buat desain KKN. Hmmm

Sepertinya hampir di semua sudut sedang panas. Pemira di mana-mana.Bahkan di seminar tadipun politik juga disentuh. Makin ruwet aja hidup ini. Satu selesai. Hal lainnya mengular... Move on dari satu hal ke hal berikutnya. Hanya saja... Aku ini siapa? Mau jadi bagian yang mana? Apa aku ada artinya? Aku selalu berharap tak menjadi bagian dari apapun. Tapi skenario-Nya siapa yang tahu. Ahhh sudahlah.

Semangat Neko Namen. Semangat UAS Isna. Menghitung hari nih. Semangat SEF. Semangat 101. Semangat sampai akhir hayat. Sampai bisa senyum di akhirat.

:)

Monday, November 18, 2013

Di Atas Menara

Untuk Jingga,

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari bangunan delapan lantai ini di mataku. Selain menatap langit dan awan mendung yang memayungi merapi pasca erupsi tadi pagi. Semburat merah matahari senja, mewarna penjuru kota  yang tampak bercahaya dari atas menara.

Menunjang dan menjulang. Barangkali slogan ini tak asing lagi di kawasan Sosio Humaniora. Sejatinya slogan ini sebuah paralelisme yang unik. Menjulang mudah dimaknai secara kasat mata. Sedangkan, menunjang... Menunjang siapa, menunjang apa, dan menunjang dalam hal bagaimana? Menunjang, sebuah visi implisit yang secara kasat mata sulit diterjemahkan dibandingkan makna menjulang itu sendiri. Meski menjulang pun dapat bermakna ganda dalam hal memuncak dalam karya. Menunjang dan menjulang berirama.

Banyak hal terjadi begitu saja. Kadang alam sadar kita tak bisa menangkap setiap kejadian di depan mata. Terima kasih Jingga untuk senja yang menyenangkan. Banyak hal yang mungkin aneh dan membingungkan tentang hidup ini. Pada titik kulminasi di mana kita mencari tempat untuk menepi, mencari tempat untuk bercengkerama dengan-Nya, Dia selalu ada meski tak kasat mata. Dia selalu mengirimkan tempat yang tepat.

Dan bersyukur sekali akan hari ini. Ternyata seseorang yang tepat itu adalah menghabiskan senja dengan instrumen walk in the night, little traveler, memo sety, kopi cantik nan pahit, dan seperangkat standar peraturan akuntan publik di layar monitor yang tak lebih menarik dari adobe effect-nya Jingga. Miraculously creative. I believe.

Sunday, November 17, 2013

Secercah Cahaya


bilamana jiwa-jiwa kita saling menyapa, saling bercahaya.
adakah kau rasa betapa indah kekuatan cahya-Nya?
bilamana jiwa-jiwa kita tegak berdiri, saling mencahayai.




sekecil apapun nyalanya, bukankah kilau-Nya menjadi amat kuat terasa?
seredup apapun jiwa-jiwa ini tampak di mata, teruslah menyala untuk-Nya.
bercahayalah di manapun berada,
karena kita adalah cahaya yang kita cari dalam kegelapan yang terasa.




Friday, November 15, 2013

Perjalanan Nostalgia, Berkeliling-keliling Desa

Saya sangat merindukan masa itu. Berlarian. Bersepedaan. Di antara pematang sawah, di antara lumpur tanah, di antara suara jangkrik, burung gereja, dan nyanyian bocah kampung di antara sorakan takbir, bahkan nyanyian di balik hujan. Masa di mana matahari, awan putih, langit biru, tanah lapang, dan persawahan menjadi kawan yang tak terlupakan. Entah kapan saya bisa kembali pada masa itu lagi. Masa di mana senyum polos dengan binar sepasang bola mata bening yang menatap langit dengan sejuta impian.

Sepekan ini bisa dibilang pekan yang luar biasa. Perjalanan nostalgia, berkeliling-keliling desa. Busy bee, bolak-balik Bantul-Jogja. Tapi asik. Asik banget. Kesempatan ini saya nikmati sekali. Jadi, saya dan Rahma tergabung dalam tim enumerator untuk pengumpulan data penelitian yang sedang dilakukan Pak Akhmad Akbar. Penelitian tsb bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh KKN-PPM terhadap UMKM di DIY. Tim Bantul sendiri terdiri atas empat orang yaitu Anin, Rahma, Agung, dan saya. Saya pikir inilah saatnya saya kembali ke kampung halaman. Mungkin sudah terlalu lama saya pergi berkelana tanpa mampu memberi apa-apa pada tanah kelahiran. Mungkin impian saya kadang terlalu muluk. Ketika seringkali saya hanya menggigit bibir atas keterbatasan dan angan-angan yang kadang terlalu tinggi. Setelah berulang kali menampar diri sendiri menyadari betapa idealisnya saya. Ya, dan ayah telah berulang kali menampar saya dengan betapa idealisnya saya.

Maka ini adalah hal yang bisa saya lakukan. Barangkali tak ada efeknya. Barangkali tak ada apa-apanya. Tapi saya cukup menikmati kampung lagi. Barangkali juga bisa ada inspirasi buat KKN tahun depan. Saya masih bingung mau KKN di mana. Saya merasa untuk benar2 berkarya nyata di kampung sendiri aja belum bisa. Saya sih berharap bisa kembali ke rumah saja mengerjakan program KKN yang benar2 bermanfaat dan bisa mengembangkan kampung halaman. Tapi saat ini fokus masih ngurus hal lainnya, KKN gimana nasibnya. Apalagi banyak yang mengomentari betapa saya suka jalan-jalan ke luar. Hmm jujur saya memang suka. Cita-cita keliling dunia udah dari SMP. Apalagi Charity Concert dari Australian Choir dari Wollongong dan gempa Jogja itu memotivasi saya banget buat mengenal dunia luar. Tapi dari situ juga saya belajar untuk mengkritik. Kenapa harus ke mall? Bahkan di rumah saya jjarang ke mall. Jadi kenapa saya harus bangga main ke luar negeri dan ujungnya hanya ke mall? Dan ini akan ssaya ceritakan di episode lain ketika melihat sisi lain Filipina. Gara-gara nekad melihat sisi lain inilah saya beranikan keluar dari mainstream. Pergi dari rombongan. Melakukan perjalanan hanya berdua dengan kawan saya dari Jepang. Kayanya temen saya ga tega aja sy berkelana sendiri. Yang saya inginkan bukan ke mall untuk sekali ini. Mencari masjid kubah mas ala Filipina dan sempat tersesat ehhe. Tapi tnatangan beginian yg justru saya suka. Look beyond. Melihat realita. Kapan2 ya sharing cerita perjalanan itu.

Saya trenyuh ketika seorang ibu bercerita tentang ketiga anaknya. Beliau usianya sudah 50 tahun. Sebagai ibu rumah tangga, beliau turut membantu suaminya yang bekerja sebagai juru masak catering di Budi Mulia dnegan berjualan angkringan dan beternak kambing. Dengan itu semua, beliau berhasil menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Ya, anaknya laki-laki semua tapi alhamdulillah tetap bisa di sekolah. Lupa sekolah apa, di bidang kesehatan karena praktik di klinik dan rumah sakit. Sedangkan, anak bungsunya, waktu itu saya ketemu anak bungsunya hendak berangkat sekolah dnegan sepedanya. Penampilan fisiknya tampak biasa sjaa. Dia cuma minta dikasih sangu 5 ribu. Hmm saya kaget lagi ketika ibu itu bilang kalo anaknya sekolah di SLB. Ibu itu bersyukur banget anaknya meskipun kemampuan berpikirnya lambat tapi secara fisik sempurna. Dan lagi, anak itu juga yang sellau di rumah membantu berjualan.

Yang paling seru dari perjalanan ini adalah melewati pematang sawah... Asik banget sensasinya. Kayanya udah lama banget ga main ke sawah. Padahal jaman dulu...  Coba jalan2 pake sepeda kaya dulu waktu kecil sepedaan sampai Bantul kota, ke goa slarong, ke makam imogiri.. Tapi jauh juga sih kalo sepedaan cari datanya bisa pingsan kali ya...

Kemudian, selepas maghrib di sebuah masjid sederhana di pelosok Palihan Bambanglipuro saya trenyuh lagi. Bu Partini yang berjualan pisang dari tahun 70an lama amat ya.. Sampai sekarang. Beliau berterima kasih banget berkat pinjaman BNI yang bekerjasama dengan LPPM UGM dia bisa mempertahankan jualannya. Pinjaman ini terkenal sebagai kredit lunak yg sangat membantu.

Malam itu cukup melelahkan. Kami bertandang dari rumah ke rumah. Betapa besar harapan mereka pada mahasiswa. Betapa sederhana dan apa adanya. Bahkan ada seorang bapak yang berjualan macam-macam tapi mungkin karena niatnya hanya memutar uang dalam keluarga untung usahanya sama sekali tak senading. Tapi tetap bisa men-sarjana-kan anaknya. Begitulah, saya jadi ingat sama bapak, ibu, dan bagaimana simbah bisa membesarkan bapak ibu. 

Betapa baiknya sambutan mereka. Hampir di setiap rumah kami dianggap sebagai tamu dan dibuatkan minum teh. Nostalgia banget rasanya. Berasa silaturahim ala lebaran. Yang jelas kehangatan mereka benar-benar terasa. Ketika saya sadar kebanyakan mereka tidaklah mengenyam pendidikan tinggi tetapi derajat dan etika mereka begitu beradab. Terkadang, saya merasa malu. Apa yang saya punya, siapa saya. Dan kadang miris juga melihat perilaku mereka yang berposisi tinggi berilmu tinggi tapi justru ketika diwawancara tidak menunjukkan derajat yang tinggi karena kurang menghormati dan sikap yang berkenan lainnya (curhat malah).

Anyway, alhmadulillah selesai sudah merangkum hasil wawancara. Meskipun pekan ini melelahkan tapi sangatlah berkesan. Rahma juga pasti capek banget sampai kemarin nginep di rumah. Dan akhirnya berangkat pagi-pagi hbs subuh dari rumah buat nggarap AKM-nya. haha berdua menembus malam, menembus fajar. Perjalanan nostalgia ini sangat berkesan. Meski harus berpacu dengan waktu dan bermandikan keringat.

P.S.:
Thanks Rahma, for being my partner during this journey. Ternyata feeling saya kuat. Pertama kali ketemu Rahma saat wawancara di pos TES1 di tengah jurit malam. Mata yang mulai sayu masih merasakan bahwa kita pasti akan bersama-sama, meski bukan di departemen yang sama ternyata rencana Allah luar biasa. Perjalanan kemarin luarbiasa banget. Kita harus membuat sejarah perjalanan hebat lagi di masa mendatang ya!

Why is it only me?

why is it only me. where are we?

Tuesday, November 12, 2013

aku ini siapa?

aku ini siapa?
aku ini siapa?
siapa aku?
aku siapa?

ketika mereka membagi bebannya padaku, mengapa aku ragu?
bukankah itulah amanah yang sebenarnya?
ketika orang lain mempercayakan bebannya kepadamu, membaginya denganmu seberat apapun itu.
bersemangatlah hei kamu!