lovely picture

Monday, June 3, 2013

Bangsal Mataram Merefleksikan Perekonomian



Sebuah Ulasan Seminar dan Bedah Buku
“Mudah Memahami dan Menganalisis: Economic, Sectoral, and Regional Indicators”

Rasanya selalu bersemangat setiap kali mengikuti perkuliahan Prof. Mudrajad Kuncoro. Semester lalu saya berkesempatan merasakan atmosfer kelas Perekonomian Indonesia yang diampu beliau. Sensasi perkuliahan yang sangat menantang dan menyenangkan. Semangat membaca, menulis, di sela ayat-ayat Quran yang disisipkan di setiap naskah beliau, bersama gelak tawa canda humor beliau yang renyah adalah suasana kuliah yang saya rindukan. Meskipun harus dihujat dan mengalami depresi mengahadapi tugas presentasi tapi pengalaman itu worth it. Menggebu-gebu, berapi-api, dan selalu diselingi humor yang menyegarkan. Apalagi dalam mata kuliah ini tidak ada jurnal debit kredit, rasanya benar-benar merdeka (curhatan anak Akuntansi yang sedikit desperate memahami akuntansi keuangan). Grafik-grafik di slide presentasi beliau tampak lebih menarik. Begitu pula, kata-kata beliau membuat jiwa serasa meregang karena merasa tertantang.. :D
Kali ini sebuah kesempatan yang amat menyenangkan. Saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar sekaligus launching buku terbaru Prof. Mudrajad, buku ke-32 dari target beliau untuk mencapai 100 buku. Luar biasa! Acara ini diadakan oleh Kantor Publikasi FEB UGM yang dipimpin oleh Prof. Mudrajad. Saya beruntung sekali mendapat informasi mengenai acara ini dari Dito. Terima kasih khusus saya sampaikan kepada Dito yang sudah memberi kesempatan kepada kami  mahasiswa untuk turut hadir di Bangsal Mataram, Bank Indonesia dengan free.. :D 

Keynote Speech oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Keynote speech disampaikan oleh perwakilan Dewan Komisioner OJK, menggantikan Muliaman D. Hadad. Beliau adalah anggota tim transisi BI-OJK, Pak Agus Siregar kalau tidak salah. Menurut pemaparan beliau, diskusi mengenai Otoritas Jasa Keuangan yang beroperasi mulai Januari 2013 ini memakan waktu hingga 12 tahun. RUU OJK pun tercatat sebagai salah satu RUU yang pembahasannya memakan waktu yang amat lama di negeri ini. Inisiasi mengenai pengadaan lemabaga pengawas independen dicetuskan sejak rezim Habibie melalui UU 34 tahun (lupa) akan tetapi baru dieksekusi Jnauari 2013 di rezim SBY. Meski telah berjalan pertengahan tahun, pengawasan sektor perbankan baru akan dimulai akhir tahun ini atau menjelang 2014. Saat ini OJK masih terbatas mengawasi Bapepam LK. Ke depan pengawasan OJK tak terbatas di ibu kota saja. Ada peluang adanya kantor-kantor cabang regional OJK agar pengawasan lebih optimal.
                Pertanyaan yang sangat merisaukan saya sejak lama adalah proses transisi BI terhadap OJK. Selama ini BI lah yang memiliki wewenang dalam hal regulasi dan pengawasan di lemabga keuangan. Pengawasan ini dipindah-tangankan kepada OJK sehingga penyerahan wewenang ini memerlukan suatu masa transisi. Menurut narasumber OJK, setidaknya perlu 3 tahun pengawasan dari eks-BI. Koordinasi sebagai barang mewah dalam kinerja pemerintah menjadi kunci keefektifan kebijakan. Keterkaitan  relasi anatar Muliaman Hadad dengan wakil Dewan Komisioner (lupa nama beliau) yang merupakan eks-BI tentu menjadi pemicu kondisi yang lebih koordinatif.
                Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana independensi, integritas, dan profesionalisme OJK ke depan? Apakah seperti KPK yang dicap tebang pilih tanam? Apakah OJK dapat menjadi stabilator atau justru penghambat dalam penanganan krisis dengan semakin ribet dan semrawutnya birokrasi dengan berbagai kepentingan politik?
                Entahlah. Yang jelas narasumber mengatakan transition risk menjadi tantangan tersendiri bagi OJK dalam proses transisi kewenangan pengawasan tsb. Stabilisasi pereknomian menjadi isu utama yang sangat fragile. Hal ini disebabkan oleh volatilitas perekonomian yang sangat rentan dalam masa implikasi wacana kenaikan BBM dan transisi dalam masa pemerintahan republik ini. Oleh karena itu, di tengah menghangatnya kondisi perpolitikan negeri dengan semakin dekatnya pemilu 2014, pemegang kekuasaan terutama mereka yang memiliki kewenangan dan kewajiban menjaga stabilitas ekonomi negeri ini perlu memfokuskan diri dalam pembenahan dan penstabilan kondisi ekonomi dan keuangan negeri.

Speaker: Bapak Tavip Ketua Bappeda DIY dan Prof. Mudrajad Kuncoro 

Berikut adalah data-data menarik dari DIY: Human Development Index (Indeks Pembangunan Manusia) menduduki peringkat keempat se-Indonesia, propinsi dengan pengangguran intelektual tertinggi di Indonesia, 9 propinsi  terburuk dengan tingginya tingkat kemiskinan, serta peringkat kedua dalam angka daya beli konsumen.
                Data di lapangan tersebut semestinya menjadi evaluasi bagi arah kebijakan. Prof. Mudrajad menekankan perlunya reformasi dan deregulasi dari peraturan dan perimbangan keuangan antara pusat-daerah melihat efektivitas dan kinerja masing-masing daerah.
                Prof. Mudrajad menekankan perlunya fokus pemerintah pada keunggulan masing-masing daerah-regional-ataupun provinsi. Indikator ekonomi menjadi mata rantai arah kebijakan. Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat kerap kali kasus kesenjangan data terhadap realita terjadi.
                Ada hal menarik yang perlu diselidiki lagi soal negerii ini. Kata Pak Tavip nih, orang Jogja tuh hidup bahagia (Hdi tinggi) tapi tetap aja miskin. Kalau Pak Mud menambahkan, orang Jogja itu nggak nyadar kalo miskin. Selama masih hidup tenang dan damai, bisa berkumpul bersama. Inilah kemiskinan kultural itu, kata Pak Mud.
                Menanggapi insentif penanggulangan kemiskinan tak lepas dari kebijakan impor-ekpsor dan berbagai paket program unggulan. Prof. Mudrahad menggarisbawahi UU perimbangan Keuangan yang perlu ditinjau ulang, yaitu UU 33/2004 dan UU 32/2004. Selain itu, tingginya proporsi investasi yang didominasi asing perlu ditangani yakni dengan Raperda Insentif Penanaman Modal.
                Menanggapi arah kebijakan dan penanganan permasalahan industri dalam negeri khusnya industri kreatif, Prof. Mud menekankan tiga masalah utama UMKM yaitu (1) Akses biaya, (2) Financial inclusion, dan (3) Akses bahan baku. Dan yang tak kalah penting beliau menambahkan,  bagaimana mengubah mindset UKM Usaha Kecil Menengah menjadi Usaha Kecil Milyaran (hahaha).
                Menurut Pak Tavip masalah budaya, industri yang tercerai berai, di sinilah urgensi koordinasi. Menyatukan industri kecil tentu tidak mudah. Tetapi hal ini perlu terutama dalam value dan terbentuknya “trust” dan cooperativeness di antara elemen masyarakat dan pemerintah. Well, beliau menyebutkan daya saing tidak seharusnya dinilai dari competitiveness. Jadi, parameter dari daya saing apa dong? Bingung... Setahu saya, sampai detik ini adanya mah GCI Global Competitiveness Index yang mencakup banyak hal. Dan level GCI Indonesia di tingkat global menurun salah satunya karrena permasalahan birokrasi dan korupsi. Sebenarnya karena belum spenuhnya paham maksud Pak Tavip dengan pernyataannya, dan forum yang tidak memungkinkan untuk mengejar makna yang beliau sampaikan, setidkanya ada hal yang jelas menjadi tugas bersama. Membangun daya saing itu dimulai dari hal kecil. Menghargai, mencintai, dan melestarikan keunggulan setiap daerah. Baguslah, ada wacana memasukkan pelajaran batik di sekolah. Ya semoga tak berhenti di sana. Akan tetapi bagaimana authority, hak atas intellectual property, manajmemen dan pemasaran dari produk lokal yang profesional sangat esensial dalam menghadapi persaingan global menghadi ASEAN Economic Community. Jaya Indonesia!

OOT:

Masjid BI cukup bersih, namanya Masjid Nur Wahid. Sesaat setelah meluncur dari Bantul ke tempat ini perjalanan yang jauh itu tak terasa melelahkan setelah berhasil menemukan ketenangan di tempat ini. Oya, ada perpusnya juga tapi nggak berani masuk hehe kan orang luar maksudnya.
               
Ohya, ada hal yang berkesan  di forum ini. Saya ketemu sosok yang familiar. Hampir empat tahun lalu dia berdiri sebagai lawan dalam Jogja Debating Cup. Beliau ini ternyata sekarang di HI UGM dan kabarnya sih founder FFI dan udah terkenal ke mancanegara weseh.
Oh well, saya takkan pernah lupa saat berhadapan dengannya dalam pengalaman high school debating cup pertama saat masih duduk di bangku Kelas X SMA. Ada satu kata yang meluncur dari beliau yang takkan pernah saya lupakan dalam debat itu, “bullshit”. Agak sakit hati sih ketika tim ini disebut2 cuma omong kosong doang. Tapi lebih kaget lagi karena kata itu muncul di  tenagh sesi debat. Dan ia muncul sebagai wakil sekolah yang notabene pesantren di Jogja. Whatthefun, Dito, Kei, dan saya pun anak yang besar di lingkungan biasa2 ini pun “terkesima” hahaha. No matter what, the ethics of debate stands. Lupa siapa akhirnya yang menang dalam sesi itu yang jelas Padmanaba berhasil, meski hanya merebut gelar Hi-School Debating Champion karena  Delayota kala itu bisa sampai level Jogja Cup. Oh well. Whatever happens, it’s not a matter of arguing. The art of debating is a matter of respecting freedom of thoughts.
Btw, orang itu inget aku nggak ya? Barangkali tidak. I have changed a lot. I have gone mature (supposed to be) and I have changed much in manner. Hahaahaaa, nggak perlu juga inget dan nggak penting juga kalee.The obvious thing is everybody changes. Barangkali bahasa Inggris dia udah level master sekarang dan semoga lebih mature dan menguasai the ethics of language itu. Thats the main point! Bukan apa-apa, mau saingan mau kawan, kita muslim tetep deh bersodara bro. Makanya saya pun perhatian dan tak pernah lupa satu kata itu yang okelah udah biasa dan rubbish dalam percakapan harian. Hmmm anyway, I think there once a saying goes (can;t remember the exact woerds) but, the way a speaker states his mind determines the level of one’s civilization. I wish you could understand what I mean here.

***
 
Yogyakarta, 3 Juni 2012
@NurismaNajma


Monday, May 20, 2013

another home

theres no place like home.
it feels like home.
indeed, it has once become a home of my life.
take me home. take me back there. someday.

Oh Allah, Sampaikanlah


Oh Allah,

sampaikanlah doa dan cintaku untuknya.

sebab bibirku kelu.
hatiku membatu.
tanganku pun berdebu.

Ibu..
maafkan anakmu.

Ibu, sungguh aku rindu.

tapi bibirku kelu.
hatiiku membatu.
tanganku penuh debu.

Ibu, mohon doamu selalu.

Ya Allah,
cintailah ibu
karena hanya cinta dan kasih-Mu
yang mampu
melebihi cintanya kepadaku


Tuesday, May 14, 2013

Mei, Tahukah Kau Apa Itu Semi

Mei,
tahukah kau apa itu semi
aku ingin melihat semi
aku ingin merasakan semi
walau yang tersisa
sepi

Adakah kau tahu di mana semi
aku tak tahu
di mana ia berada
aku sungguh tak tahu
ke mana semi akan kutemui
aku tak tahu lagi
kapankah ia akan kembali
dan bilakah aku melihatmu lagi

Mei,
bukankah semi
bak mata yang terbuka
cakrawala yang terbentang nyata
alam yang berirama
bersama wangi bebunga
senyum sang surya pun bercerita

Mei,
katakan kepadaku
semi itu sungguh ada bukan
bukan dingin dan sepi yang menggigil
bukan hujan dan salju yang membeku
bukan pula badai angin yang mengamuk
pada terompah kayu
dedaunan pun menua
perlahan berguguran
bersama senja yang semakin tua

Mei,
aku menantikanmu
bilakah kau bersemi kembali

Mei,
biarkan aku menantikan ceritamu
dalam diammu yang membisu
aku tak peduli
hingga semi kembali
walau ia datang dan pergi

Selamat datang Mei, semoga kau bersemi kembali :)

Friday, April 26, 2013

Wahai Pujangga, Ayat-Ayat Sang Penyair

Asy Syu'ara
(221) Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
(222) Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa
(223) Mereka menyampaikan hasil pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang-orang pendusta.
(224) Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.
(225) Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah,
(226) dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tdk mengerjakan(nya)?
(227) Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.
 
Puisi. Kontroversi. Seperti halnya musik. Apapun itu. Ayat2 di atas adalah jawaban-Nya.
 
Ya Allah, jadikanlah kami penyair yang selalu memuja dan memuji-Mu, meresapi ayat-ayat-Mu dengan untaian-untaian doa yang meneduhkan hati.

Musikalisasi Aku Ingin Menjadi Sapardi, Under The Lines of Prayer, dan In The Love of Us ini dibuat hanya menggunakan sound recorder dan media player, amat sangat simpel. Recording pembacaan puisi ini bertujuan untuk mengapresiasi puisi tersebut. Sebab sastra hanya dapat hidup dengan penghayatan. Sastra ialah kebisuan yang berbicara dengan hati. Dengan musikalisasi dan intonasi sebua puisi seakan berbicara dari hati ke hati. Dan semua ini dipersembahkan untuk Prof. Sapardi, Prof. Suwardjana, Bapak, dan Ibu.
 
Terima kasih untuk Bapak, Ibu, dan Kakak atas cinta, ketulusan, kebersamaan, dan segala yang diberikan untuk saya. Terima kasih Ibu Guru dan Chairil Anwar dalam puisi Doa yang membuatku menemukan jiwaku dalam puisi sejak usiaku masih delapan tahun. Terima kasih Isna Dewanti, sahabat karib, sejoli nama, kakak, teman masa kecil, yang sudah mengajariku mentadaburi ayat-ayat-Nya, menuntun jiwaku, hanya dari menjadi pendamping di setiap tilawahnya yang indah aku bisa menemukan kehidupan. Terima kasih Khadijah, sahabat masa kecil yang selalu terasa ada di dekat sini. Terima kasih untuk Sapardi Djoko Damono yang sangat menginspirasi dan puisinya Aku Ingin yang di-remix dalam puisi Aku Ingin Menjadi Sapardi. Terima kasih Prof. Suwardjana yang hanya sesekali bertemu di kampus dan beberapa membaca tulisannya dan passion-nya yang mengagumkan. Ajari dan doakan saya agar bisa mencintai dunia Akuntansi tanpa meninggalkan jiwa dan puisi. Terima kasih Bapak Ibu Guru SMP yang memberiku kesempatan berpuisi, bermusikalisasi, untuk pertama kalinya, Library by Barbara A. Huff dengan musik akustik Romance d'Amor. Sungguh mengesankan. Terima kasih Pak Yovie yang mengajari saya geguritan di SMA, yang memuat geguritan saya diam-diam sehingga menjadi sebuah kejutan tak terduga. Komunitas Penulis Pelajar yang juga menghidupkan kembali impian saya. Teruntuk, Mom and Liliana, Papa and Jo, keluarga yang nun jauh di sana yang selalu mengapresiasi setiap hal yang saya lakukan sebagai seni yang tiada duanya dan telah menghadiahkan buku2 literatur yang mungkin tak pernah bisa saya miliki tanpa mereka. I love you all :)
 
 
#recording ini dapet inspirasi dari kawan yang hobi media. suatu ketika saat ol tengah malam, kawan saya itu meminta rekaman suara semcam buat baca artikel presentasi untuk esok hari. OMG. Emang mungkin ga ada orang lagi yang nocturnal macam saya, terpaksanya orang itu meminta rekaman artikel ke saya. Jadi mumpung Lilis mbak I mbak Tifa udah tertidur semua. Rekaman itu jadilah. Entahlah kaya macam apa. Tapi katanya bagus. Trus, ting jadi pengen memusikalisasi tulisan2 yang udah jadi sampah yg Menuhin memori computer :) semoga menginspirasi hasil recording nya, available on soundclouds :)

http://soundcloud.com/nur-isnaini-masyithoh/under-the-lines-of-prayer

buat yang Aku Ingin Menjadi Sapardi belum bias diunggah entahlah, puisi itu rada sentimental sih mungkin Tuhan kurang berkenan atau koneksinya yang emang kurang bersahabat.

enjoy the rhyme!

Monday, April 22, 2013

May I know You by heart?

Tentang sebuah nama. Penyejuk. Pencerah. Sebaik-baik nama. Sebaik-baik pengokoh. Sebaik-baik pelindung. Yaa Aziz, Yaa Ghaffar, Yaa Jabbar Ya Kariim.

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. (Ali Imran:2)

Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya meklainkan dengan kekuatan ilmu. (Ar Rahman:33)

Atau, apakah manusia akan mendapat segala yg dicita-citakannya? (tidak) maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan dunia. Dan betapa banyak malaikat di alngit, syafaat mereka sedikitpun tak berguna kecuali Allah telah mengizinkan dan hanya bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai. (An Najm:24-26)

Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaan-Nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan, sungguh beruntung orang yg menyucikannya (jiwa), dan sungguh rugi orang yg mengotorinya. (Asy Syams:7-10)

Sungguh, usahamu memang beraneka macam. Maka barang siapa memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan emmebenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). (Al-Lail:4-7)

Adapun bila yang meninggal itu adalah orang2 yg mendekatkan diri kepada Alah maka kematian baginya adalaha lega, semerbak, dan nikmat sekali. (Al Waqiah:89-90)

Pertolongan itu hanya milik Allah semuanya. Dia memiliki kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan. (Az Zumar)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun,, dan Dia memebrimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kmau bersyukur. (An Nahl:78)

...Wahai Tuhan kami janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kpd org2 sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yg kami tdk dpt memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkaulah pelindung kami.... (Al Baqarah:286)


I know You by heart. Instrumen beraliran jazz yang sedang mengalun itu berjudul I know you by heart. Satu hal yang saya suka dari musik instrumen adalah saya tak perlu terkontaminasi dengan lirik yang kadang tak penting. Tapi saya yakin nada-nada bisa menhadi ayat-ayatnya yang tak tertuliskan. Di sini saya merasa bahwa menyepi itu merasakan hidup, merasakan dengan hati, as if I know You by heart. Kesendirianlah yang kadang membuat kita merenung untuk lebih memaknai kehidupan. Terima kasih untuk peringatan dan pelajaran tempo hari :") 

#dari sekumpulan mozaik kontemplasi

Wednesday, April 17, 2013

Aku Ingin Menjadi "Sapardi Djoko Suwardjana"

kepada Bapak, Ibu, Sapardi Djoko Damono, dan Prof. Suwardjana
"Aku ingin menjadi Sapardi"
Kataku kepadamu dua tahun silam
kepada hujan dan malam
dalam deklarasiku yang sederhana
namun sayang, bagimu ia justru terdengar
seperti guruh yang menggelegar
seriak ombak yang marah kepada karang
padahal sejatinya ia hanya secuil pelangi
yang ingin kulukis di mata hatimu
"Aku ingin menjadi Sapardi"
itulah ungkapan paling sederhana
harapan paling manusiawi yang pernah kumiliki
impian yang menurutmu paling musykil
cita-cita terbodoh yang ada di pikiranku
hal ter-absurd yang pernah kau dengar dari bibirku
ialah pengakuan terjujurku kepadamu
Hanya saja sudah cukup aku mengecewakanmu
hanya saja aku tahu jiwaku terlalu kerdil
hingga aku tidak tahu lagi bagaimana
menjadi diriku sendiri
"Aku ingin menjadi Sapardi"
mungkin hanya terdengar seperti angin lalu
yang terbang bersama debu
hingga hilang di sudut matamu
Ayah Ibu, aku mencintaimu,
sebagai hal terbesar yang kumiliki
maka aku percaya pada kata-katamu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
dengan kata yang tak sempat diucapkan 
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada [1]
Aku ingin menjadi Sapardi Djoko Suwardjana
meski terdengar gila
di sanalah aku berharap
menemukan kembali siapa diriku
***
Judul disadur dari puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono.
[1] dikutip dari puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono
Happy National Poetry Month :)