lovely picture

Friday, September 13, 2013

Pursuing The Dreams

I want to be a successful intellectual in the field of research in economics so that I can give back to the society. I would love to pirsue my dream for the literate and civilized society for I wish i could be part of Open Society Foundation. aamiin.

http://www.opensocietyfoundations.org/grants/open-society-fellowship


John Steinbeck's Golden Words about Love

John Steinbeck was a well known American author. I heard his name in my American Lit and US History Class with Ms. Dohe and Bickelhaupt respectively. He wrote The Grapes of Wrath and Of Mice and Man.

Steinbeck: A Life in Letters collect his writings. And I pick some of my favorite on of his response to his son, Thom. He gives me so much lesson. So, thank you Mr. Steinbeck for your golden wisdom.

First — if you are in love — that’s a good thing — that’s about the best thing that can happen to anyone. Don’t let anyone make it small or light to you.
 Second — There are several kinds of love. One is a selfish, mean, grasping, egotistical thing which uses love for self-importance. This is the ugly and crippling kind. The other is an outpouring of everything good in you — of kindness and consideration and respect — not only the social respect of manners but the greater respect which is recognition of another person as unique and valuable. The first kind can make you sick and small and weak but the second can release in you strength, and courage and goodness and even wisdom you didn’t know you had.
It sometimes happens that what you feel is not returned for one reason or another — but that does not make your feeling less valuable and good.
 If it is right, it happens — The main thing is not to hurry. Nothing good gets away.
 

Taken from:
http://www.brainpickings.org/index.php/2012/01/12/john-steinbeck-on-love-1958/?utm_content=buffer657b6&utm_source=buffer&utm_medium=twitter&utm_campaign=Buffer

Sunday, September 8, 2013

MJJ-Life Planning

Aku punya impian yang sekalinya aku ungkapkan, orang pertama yang menghancurkan impian itu adalah orang tuaku. Tapi aku tahu bahwa mereka berharap agar aku bermimpi lebih tinggi dan realistis.

Hari ini, mata kuliah perdanaku adalah Ekonometrika 1. Ekmet1 yang diampub oleh Pak Elan adalah makul pilihan yang bisa dibilang makul yg di dunia ekbis tergolong momok. Aku merasa terpanggil aja. Satu semster nggak ketemu sama mkul Matematika Ekonomi dan Statistika rasanya... ada yang kurang. Akhirnya nekad aku ambil makul ini. Dari 60 kursi hanya ada 20 mahasiswa. Hmm apakah akan lolos di tahap ini? Akankah semulus dan menggaraihkan seperti duduk di makul Matek mbak Sekar yang so challenging, fun, and cool at the same time?

Aku tidak tahu kenapa. Berulang kali orang2 menngklaim kelas itu berat aku semakin tertarik. Am I escaping from the mainstream of the accountants such as the prestige of becoming an auditor, banker, and whatsoever? Yet, I think those are great career. However, I have my own dream. If I could learn higher, I would love to learn Economics taht are more human. And that inspiration comes up just after I attended an open lecture by Mr. Elan last semester. He opened up my mind tht economics is so wide. I could imagine beyond the inflation, fiat money, accounting journals, just by listening to his presentation. I found humanities behind. I found so much inspiration in it. he really triumphs my unspoken dreams. 

I just enjoyed an hour class with him today. He gives me hope. Nevertheless, I sometimes found some people discourage me with such pessimism on my mind. Yes, i found spirit in certain classes which I couldnt while I was in Intermediate Accounting II when the lecture really dropped my mood. Meanwhile, Mr. Elan was acting the best, driving me towards the peak of hope. He told me that even the accountants, managers, and everything run in the business rely on microeconomic data. And, econometric is one of the best tool to get through.

And jsut today, having another class of Accounting Information System with a new high spirit face from a fresh Ph.D. grad I was highly motivated though at some extend I was freely dropped at the same time. He asked the students about the life planning. And you know what, I have to tell people I have to declare always this abnormal-sounded dream of a mainstream accounting student. Just mention becoming an auditor, a banker, whatsoever. I dream that I can be a mastery of the economic data researcher in the fields of accounting and business. How can I come up with this? Does it mean that I'm not in my right track? Who's gonna decide who and where is the right track? You setthe dream, you search for the roads, and God will guide you the dream land with so many ways we neve know how. I am accounting student and I know financial accounting, auditing, and so many things in the relevbant business sector. Thus, I know I will have the same chance to learn what becomes my prefer beyond how it appears to be. I know even when the lecture was upset that the class wouldnt listen to such crazy thought and they might notice what a stupid silly accounting student's dream. I don not care. I do not want to be falling for the second time just because others doubt me. So, I tell my self, be tough. 


John Nash and the Beautiful Mind has become a great inspiration. Mbak Sekar who challenges me in the classroom as well as my professionalism outside (as becoming a committee for a faculty event) really taught me so much life lesson. I feel thankful for that. And I do hope that even if she had been disappointed once for my fault, I wish i could be someone she will be proud of in the future for she has been a great teacher. I still have so much to work on, to be more specific and to hold on with this dream. But, I still havent decided where. But I vividly remember while I was a junior high school, I told people I want to go to Harvard. Or, at least, Princeton and other place where math, economics, and humanities can stand together is always my dream place. 

I cannot say this to the class since someone next to you who presents in the class not you-yourself. I would say it perhaps if i talk by my own. But, I dont need it anymore.Even when people dont care or even insult my idea. It doesnt matter. I need God, instead, to listen and guide me through the way. 


Friday, September 6, 2013

Jika Aku, Kau, Kita.. Uhibbukumfillaah


Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin menjadi siapapun atau menjadi bagian dari apapun. (aku belum bisa mengurai filosofiku sendiri yg kadang pragmatis. jadi biarkan aku mencerna suara yg seringkali muncul dalam diriku ini).

Aku sudah terbiasa. Menjadi seseorang yang antah berantah. Dari kecil hingga saat ini sudah berkali-kali rasanya aku masuk ke "hutan rimba" di mana aku masuk ke zona yang aku merasa asing. Aku mulai menikmati keterasingan yang ada. Sensasi sejak kecil menjadi anak ilang yang berpindah2 dari satu pengasuh ke pengasuh berikutnya, anak ilang yang suka ngikut-ngikut mbak sekolah padahal belum saatnya sekolah, sensasi pertama saat aku mewakili SD dalam lomba puisi dan aku merasa cupu dengan penampilanku sendiri yang bisa dianggap amat udik, sensasi mewakili sekolah ndeso lomba IPA dan merasa benar2 dibodohi karena sama sekali kagak ngerti materi di soalnya, sensai masuk dunia anak bilingual dan mendapat nilai terburuk Fisika di kelas, dari keterpurukan itu adalah sensasi awal menjadi anak smp yg udah keranjingan belajar buku SNMPTN Bob Foster haha anak smp nan polos yang beruntung berkesempatan mengenyam pembinaan Fisika di kampus idaman UGM, sensasi sekali seumur hidup masuk Semesta Boarding School yang di mataku seperti istana ilmu yang megah di tengah-tengah pegunungan manakala wawancara siswa baru pasca ikut finalis Pasiad sebuah ajang kompetisi Matematika ternama itu ya meski ternyata hanya tinggal impian masa lalu, sensasi masuk Padmanaba yang membuat hatiku takjub berkali-kali, sensasi menjadi anak baru yang bener2 lugu khidmat mengikuti alur mos pplb, sensasi pertama merasa bodoh di hadapan judges dan rival team karena dari seorang yg lirih dan tampak kalem di luar dia akan berubah menjadi sosok yang menggebu dan emosional dalam sebuah debat yg memanas apalagi saat lawannya mengatakan timnya "bullshit" jelas dia ga terima, sensasi menjadi salah satu di antara wanita yang pernah jatuh cinta sama Fisika yang akhirnya menentukan langkahnya karena ia tahu ketertarikannya dalam dunia bahasa asing melebihi rumus2 yang dulu sempat menjadi sahabat karibnya, sensasi menjadi anak ilang yang naik kereta taksaka pertama dalam hidupnya, sensasi merasakan gelora taman ismail marzuki saat menjadi mezo-vocalist dan menikmati harmoni puisinya dibawakan di atas panggung meski kagak ada yg mau tau itu puisi sapa yg bikin, merasakan sensasi jadi angkatan yang hilang atau tepatnya anak yang hilang angkatan, merasakan sensasi ketemu orang2 yang hanif, ketemu orang2 yang gaul dan kehidupan bisnis nan ala eksmud, dan merasakan sensasi keterasingan di dalam diri sendiri..

Lalu, bagaimana jika aku merindukan kalian? Aku merindukan kalian dalam setiap keterasingan ini :") Aku tahu sesendiri apapun, aku tak pernah sendiri. Hanya saja, kelemahan ini menyerang teramat kuat, terkadang. Yah, setidaknya selama aku yakin bahwa Allah selalu ada dan selalu ada untukku. Aku mengerti setiap manusia hijrah menuju mimpi dan barangkali takdir dalam hidupnya. Aku tahu seperti apapun kesibukan yang masing2 kita hadapi di dunia masing2, ada satu hal yang membuat kita bertemu dan bersama-sama lagi, yakni saat kita bersujud. Saat kita menundukkan hati dan pikiran kita. Bukankah hal-hal duniawi kita berusaha keras utk melepaskannya saat kita tunduk, rukuk, dan sujud? Kita berusaha keras untuk menundukkan merukukkan dan mensujudjkan hati..

Tapi kadang, aku ingin bersama kalian lagi, melihat ulas senyum kehangatan, menjabat tangan kalian dalam kebersamaan dan ukhuwwah yang kita bangun tanpa melihat keterasingan yang kualamai dalam hidupku ini. Sebab kadang keterasingan menjadi sahabat terdekat yang kita belum pahami. Ya aku tahu barangkali aku ini bukan berarti apa-apa lagi. Karena aku tau ya aku bukanlah siapa-siapa kalian. Terkadang hanyalah seselip nama yang terlupakan. Dan dalam perasaan seperti itu pun terkadang aku memilih menyendiri untuk menenangkan hati. Hanya saja aku merasa perjalanan ini tak seharusnya kurasakan begini. Setidaknya aku punya orang2 hebat seperti kalian, bukankah itu hal yang membahagiakan untuk memiliki kawan2 sehebat kalian dalam hidupku meski hanya sebuah fragmen kecil yg tak banyak artinya? Kalian yg mampu meneguhkan dan mengokohkan kembali semangatku. Di manapun kalian kini, semoga Allah melindungi kalian. Semoga Allah limpahkan cinta-Nya pada kalian. Semoga Allah persatukan kita dalam doa-doa kita. Semoga Allah mudahkan kita untuk melalui tangga2 tantangan yang ada di hadapan kita. Di mana pun jalan yang kita pilih. Semoga Allah kuatkan kita selalu dalam dekapan-Nya. Aamiin. Uhibbukum fillaah. Aku sayang kalian, karena Allah.

Saturday, August 31, 2013

Self Talk

"Conversation enriches understanding, but solitude is the school of genius."-A Beautiful Mind (a biography of Mathematician and Economic Noble Laurette John Nash)

Thank you all for being very kind friends. Unfortunately, I am accustomed with loneliness. I am accustomed at figuring out things all by my self. Even if I am not a genius, I sometimes feel being alone is better.

Alhamdulillaah, sampai di rumah dengan selamat. Great Journey. Gunungpati, I wont forget you. You were a power, you were a great dream of a 15 year old girl. Thanks, Pasiad and Semesta for teaching me on how to dream high.

"Even the stars, they burn. Some even fall to the earth. We've got a lot to learn. God knows we're worth it. No, I wont give up." - I Won't Give Up ( a song sung by Jason Mraz)

Yaa, its 6 years, I still remember how much I want to go there. Gunungpati where Semesta is such a dream place. I passed the test miraculously. I was a finalist of Pasiad which I know I wasnt really Math olympiad student (but used to be the one of among the rare Physics girls in the olym team). Anyway, I did. I wasnt lucky enough to be one of the students there. But you know what, Mr. Haris, I won;t die because of failing my dream. At least I show you my best. And I am gonna show you that I can do my best. :)

PS: i love the song i wont give up. lol i think if I duet with Jason Mraz in my mezo-soprano it woul be really cool (just dreaming) lol indeed it would be a nice combination of his lead vocal and mine-the second voice (backing vocal). i'm not so serious.

Thursday, August 29, 2013

DREAM ^^

Sebelum lulus saya punya mimpi yg belum terwujud. Saya ingin sekali belajar banyak dan sungguh-sungguh dalam melakukan penelitian. Sedihnya jika menjadi bagian dari keluarga KirPad dan SEF yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah dan intelektualitas dalam pemikiran, akan tetapi saya sendiri tak memiliki karya. Jangan sampai. Biarpun saya sedikit sedih ketika menjadi maba dan staf tahun pertama yang berharap bisa banyak mengolah keterampilan menulis ilmiah.. Eh, ya syukur sih dpt amanah ngurus buletin itu tapi sebenarnya saya ingin belajar bukan ujug-ujug jadi editor.. Sayang kan hasilnya kurang maksimal hanya karena editornya kurang profesional. Tapi saya bersyukur kekecewaan itu sedikit terobati karena dengan menjadi pj dan editor buletin itu saya jadi belajar ala learning by doing. Tentu saja saya berterima kasih kepada mas Ade yang waktu itu meskipun sudah sibuk dengan amanah ketua tapi tetap menyempatkan memantau buletin ini dengan tutorial singkat. Selain itu, saya juga berterima kasih sama Dr. Victor, dosen killer di mata siswa kelas ASEAN Economic Studies yang dengan profesionalismenya telah mengajarkan kami menulis thesis sederhana, mengonsultasikan pemikiran kami, dan melatih kami mempresentasikan hasil pemikiran di hadapan kelas. Beginilah kehidupan mahasiswa semestinya.. Saya kangen kelas itu seberat apapun rasanya waktu itu.

1. Research Scholarship
http://students.anu.edu.au/scholarships/summ-rsh.php

2. Paper Competition
http://festivalilmiah.uns.ac.id

3. Business Plan/Business Model Competition
https://sites.google.com/site/mekongchallenge/Home

4. Menulis fiksi lagi. Hmm jadi tulisan th. 2011 sudah disunting di th.2013. Payah sekali menemukan mood menulis fiksi.. Bismillah, semoga Rendezvouz part 2 segera menyusul.. Anyway, sebenarnya saya bingung. Buat apa saya nulis begini? Mau buat apa? Toh cuma menuh2in memori komputer? Dan saya seperti kehilangan nyali untuk mengirim lagi. Terakhir kirim karya ya pas lomba cerpen WR tapi blm beruntung. Habis itu bahkan setahun lupa nulis fiksi. Hmmm ya sudahlah, nikmati saja. :)

Thursday, August 22, 2013

Antara Bumi dan Bintang


"Aku ingin menjadi bintang-gemintang," katanya dengan mata berbinar. Jari mungilnya menunjuk ke arah kerlipan di antara langit malam yang membentang.
"Kau, ingin menjadi apakah dirimu jika kau boleh memilih apapun?" pertanyaannya kembali membuyarkan lamunanku.
"Aku... Emmm.. Aku ingin menjadi bumi saja," kataku tanpa ekspresi.
"Bumi? Kenapa? Kupikir kau ingin menjadi bulan yang seterang purnama itu," katanya dengan raut muka penuh rasa ingin tahu.
"Tadi kau bilang aku bebas memilih, jadi aku pilih bumi. Tidak ada yang salah, kan? Kau sendiri, kenapa ingin jadi bintang?"
"Oh iya, benar. Aku ingin menjadi bintang karena bintang bersinar dengan sinarnya sendiri. Dengan sinarnya itu dia membuat yang lain bercahaya. Planet-planet pun tampak bercahaya karena mereka memantulkan sinar bintang. Rembulan itu tak kan tampak bercahaya tanpa sinar bintang. Langit malam pun berubah menjadi lukisan yang menawan karenya. Siapapun yang melihat kerlip bintang akan merasakan indahnya. Sekecil apapun ia tampak di mata, dia akan selalu indah bercahaya."
Aku mengangguk dan meresapi pemandangan di hadapanku. Benar sekali perkataannya.
"Kalau begitu, tahukah kamu kenapa aku ingin menjadi bumi?"
"Mana aku tahu, kau kan bebas memilih. Hmm, apa alasannya?"
"Karena bumilah yang membuat kita berpijak, mengajari kita bagaimana menjadi bijak. Kita bisa menatap langit yang sama meski di manapun kita berada. Dan di bumi kita bisa menatap keindahan bintang-bintang. Menggantungkan impian setinggi bintang-bintang itu. Untuk selalu berharap suatu saat meraihnya."

ea ea ea.. 
 #absurd #random