lovely picture

Saturday, June 23, 2012

Bukan sesuatu, bukan apapun.
Bukan air mata, bukan tawamu.
Hanya ilusi.
Apa lagi yang kau cari?

Friday, June 15, 2012

my little pen home: Ada kalanya..

my little pen home: Ada kalanya..: Ada kalanya seseorang membutuhkan waktu untuk sendiri.
Ada kalanya sesuatu lebih baik ia simpan.
Sebab terkadang tidak semua hal bisa diukurnya dengan rasio.
Hanya butuh sedikit jeda untuk menghembuskan nafas,
menjernihkan kepala,
menegakkan kembali jiwa ini,
dan meyakinkannya,
all is well :)

Ada kalanya..


Ada kalanya seseorang membutuhkan waktu untuk sendiri.
Ada kalanya sesuatu lebih baik ia simpan.
Sebab terkadang tidak semua hal bisa diukurnya dengan rasio.
Hanya butuh sedikit jeda untuk menghembuskan nafas,
menjernihkan kepala,
menegakkan kembali jiwa ini,
dan meyakinkannya,
all is well :)

Harmoni Pelangi

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa.”(QS 49:13).
Kombinasi proses pembiasan dan pemantulan cahaya matahari oleh butir-butir air hujan menghasilkan pelangi yang indah melengkung di langit. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu adalah warna lengkapnya yang mengungkapkan hakikat warna cahaya matahari. Keragaman warnanya hanya ditampakkan untuk menunjukkan keindahan. Hijaunya daun, merahnya mawar, kuningnya emas, putihnya melati, serta birunya langit dan laut tampak karena sifat pantulan, serapan, atau hamburan warna cahaya matahari oleh masing-masing zat tersebut.
Dari segi spektrum energinya, komponen cahaya matahari yang paling kuat adalah cahaya kuning. Tetapi hal itu tidak menjadikan seluruh alam jadi tampak kuning. Masing-masing komponen warna punya perannya masing-masing untuk menunjukkan keindahan alam raya. Ketika bersatu dalam satu berkas cahaya, kita tidak mengenali bahwa cahaya matahari sesungguhnya terdiri dari banyak komponen. Semuanya tampak menyatu.
Pelangi menunjukkan keberagaman komponen cahaya matahari dalam keharmonisan dan keindahan.
Pelangi dan cahaya matahari adalah suatu pelajaran tentang persatuan yang hakiki. Karakteristik masing-masing komponen tidak harus ditonjolkan, dihilangkan, atau diseragamkan, karena keanekaragaman adalah suatu kekayaan. Masing-masing komponen punya peran dan keunggulan tersendiri. Kekuatan mayoritas pun tidak boleh memaksakan atau mendominasi.
Allah menciptakan manusia berkelompok-kelompok (QS 49:13). Dengan kekhasannya masing-masing, anggota kelompok bisa saling mengenal lebih dekat karena kemiripan tradisi, visi, dan misi mereka. Masing-masing kelompok punya karakteristik yang tidak harus dibaurkan atau diseragamkan demi persatuan. Berbangsa-bangsa dan berkelompok-berkelompok itu agar saling mengenal dalam kelompok kecil tersebut, demikian firman-Nya. Bukan untuk berpecah dengan kelompok lain. Bukan untuk membanggakan kelompoknya atau merendahkan lainnya.
Bersuku-suku, berpartai-partai, atau berkelompok-kelompok adalah sunatullah. Biarlah ada suku A, B, atau C. Biarlah ada partai K, L, atau M. Biarlah ada ormas X, Y, atau Z. Keanekaragamannya seindah pelangi. Tetapi ketika dipersatukan dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah, semua menyatu seperti seberkas cahaya matahari yang cemerlang.
Tidak ada suku, partai, atau kelompok yang merasa paling unggul, paling kokoh, paling banyak pendukungnya, paling reformis, atau paling baik dengan merendahkan lainnya. Kelompok yang direndahkan bisa jadi lebih baik (QS 49:11). Sesungguhnya keunggulan hakiki hanyalah Allah yang paling tahu dari kadar ketaqwaannya (QS 49:13).
Persatuan adalah perwujudan keharmonisan masing-masing komponen yang menerima perbedaan sebagai suatu kekayaan yang memperindah kehidupan. Menyeragamkan sering menghasilkan persatuan yang semu. Ibarat pelangi, perbedaan warna muncul hanya untuk menunjukkan keindahan, bukan untuk bercerai berai.

Monday, June 11, 2012

99 Cahaya - Sebuah Kado dari Padmanaba untuk Dunia - coming soon Juni 22


Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Berbagai kejadian sejak 10 tahun terakhir ­­­­– misalnya pengeboman Madrid dan London, menyusul serangan teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun Nabi Muhammad, dan film fitna di Belanda – menyebabkan hubungan antara Islam dan Eropa mengalami ketegangan yang cukup serius. Luka dan dendam akibat ratusan tahun Perang Salib yang rupanya masih membekas sampai hari ini.[1]
Islam. Bukankah ia salam, perdamaian, dan rahmat bagi semesta alam? Islam rahmatan lil’alamin. Cahaya Islam menerangi dunia dari kejahiliyahan mulai dari Arab, Afrika,  Eropa, hingga berbagai benua di belahan dunia. Saat Eropa tengah mengalami dark ages, Islam tengah mencapai peradabannya dalam berbagai sendi keilmuan. Peradaban Islam itulah yang meniupkan angin renaissance hingga membangkitkan Eropa dari dark ages (medieval) hingga mencapai kemajuan pesat hingga saat ini. Lalu, bagaimanakah Islam saat ini? Di manakah umat muslim cendekiawan, pembawa perdamaian dan peradaban dunia? Al-Khawarizmi - ilmuwan matematika penemu Aljabar dan peletak dasar pencatatan Akuntansi; Ibnu Sina -  ahli di bidang Kedokteran; Ibnu Khaldun – Bapak Sosiologi dan Bapak Ekonomi dunia pencetus teori Sosiologi dan Ekonomi sebelum Aristoteles dan Adam Smith. Siapkah menyampaikan kita risalah Rasulullah, para sahabat, dan para ilmuwan Islam untuk memberi cahaya kepada semesta hingga akhir zaman?
Hanum Rais dan Rangga Almahendra, dua penulis ini mencoba membangkitkan kekuatan cahaya Islam lewat uraian perjalanannya yang fenomenal dalam  99 Cahaya di Langit Eropa:
Allah-lah yang menguasai jiwa-jiwa kita. Membuatnya senang atau sedih, membuatnya tertawa atau menangis. Demikianlah aku menerjemahkan setiap pengembaraanku ke tempat baru. Penjelajahan terhadap sejarah masa lalu hanyalah suatu usaha untuk lebih mengenal diri sendiri, mengenal kuasa Tuhan atas jiwa-jiwa kita.
Untuk bisa menemukan Tuhan, aku tak boleh mencari tujuan-tujuan lain selain diri-Nya. Aku harus kembali  pada-Nya. Aku harus membuang jauh hal-hal yang dapat membuatku berpaling dari-Nya, termasuk “aku” sendiri. Semua yang kulakukan bukan untuk aku atau egoku, mungkin bukan pula untuk kebutuhan agamaku. Tapi hanya untuk kembali kepada Allah.
Islam adalah penyerahan diri sepenuhnya pada Allah. Pergi dan kembali hanya untuk-Nya.2
Seribu tahun Islam bersinar, lalu pelan-pelan memudar. Aku bertanya, mengapa?
Karena sebagian umat Islam sudah mulai melupakan apa yang telah diperdengarkan Jibril kepada Muhammad SAW pertama kali. Karena kita terlalu sibuk bercumbu dengan kata jihad yang salah dimaknai dengan pedang, bukan dengan perantara kalam (pengetahuan).3
Aku percaya, suatu hari nanti cahaya Islam akan kembali bersinar di muka bumi.4






1Rais & Almahendra. (2011). 99 Cahaya di Langit Eropa. Jakarta: Gramedia. Hal. 4
2Ibid.Hal. 374
3Ibid.Hal. 391
4Ibid.Hal. 392