lovely picture

Thursday, April 17, 2014

Takkan Berpaling Dari-Mu

Barusan menghabiskan akhir pekan bersama bapak dan ibu. Rehat dari semua rutinitas, nonton mbak Oki membawakan acara Inspirasi Iman tentang Faktor X dari Sukses. Nah, ada satu jeda penampilan siapa ga tau nyanyiin lagu ini. Lagunya Rosa jaman2 sma dulu. Nggak pernah nonton filmnya sih tapi lagunya bagusss dan ngenaaa eh.. Jadi pengen nulis di blog..

Takkan Berpaling Dari-MU
Kala malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang

Dan mulai turun setetes air langit dari tubuhnya
Tanpa sadar nikmatnya alam karena kuasa-Mu
Yang takkan habis sampai di akhir waktu perjalanan ini

Terima kasih ku pada-Mu Tuhanku
Tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata
Hanya diri-Mu yang tahu besar rasa cintaku pada-Mu
Oh Tuhan anugerah-Mu tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku Tuhan semesta alam
Dan satu janjiku takkan berpaling dari-Mu

Terima kasihku Ya Allah
Tuhanku anugerah-Mu
Anugerah-Mu

Tuhan sisihkan semua aral melintang di hadapanku
Dan buat terang seluruh jalan hidupku melangkah

Terima kasih ku pada-Mu Tuhanku
Tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata
Hanya diri-Mu yang tahu besar rasa cintaku pada-Mu
Anugerah-Mu tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku Tuhan semesta alam
Dan satu janjiku takkan berpaling dari-Mu

Sunday, April 13, 2014

Harmony-Seeking Idealist

Well, ini ada tes kepribadian lagi.. Yang ini sebenernya lumayan realistis dibandingkan yg career test kemarin. Hanya saja pertanyaan yang di sini terlalu terpolarisasi dari awal. Sedangkan, career test lebih komprehensif. Mengapa hasilnya sedikit kontradiktif ya? Mungkinkah saya berkepribadian ganda?Hahaha
Harmony-seeking Idealists are characterized by a complex personality and an abundance of thoughts and feelings. They are warm-hearted persons by nature. They are sympathetic and understanding. Harmony-seeking Idealists expect a lot of themselves and of others. They have a strong understanding of human nature and are often very good judges of character.
But they are mostly reserved and confide their thoughts and feelings to very few people they trust. They are deeply hurt by rejection or criticism. Harmony-seeking Idealists find conflict situations unpleasant and prefer harmonious relationships. However, if reaching a certain target is very important to them they can assert themselves with a doggedness bordering on obstinacy.

Harmony-seeking Idealists have a lively fantasy, often an almost clairvoyant intuition and are often very creative. Once they have tackled a project, they do everything in their power to achieve their goals. In everyday life, they often prove to be excellent problem solvers. They like to get to the root of things and have a natural curiosity and a thirst for knowledge. At the same time, they are practically oriented, well organized and in a position to tackle complex situations in a structured and carefully considered manner. When they concentrate on something, they do so one hundred percent - they often become so immersed in a task that they forget everything else around them. That is the secret of their often very large professional success.

» Get career advice for your type

As partners, harmony-seeking idealists are loyal and reliable; a permanent relationship is very important to them. They seldom fall in love head over heels nor do they like quick affairs. They sometimes find it very difficult to clearly show their affection although their feelings are deep and sincere. In as far as their circle of friends is concerned, their motto is: less is more! As far as new contacts are concerned, they are approachable to only a limited extent; they prefer to put their energy into just a few, close friendships. Their demands on friends and partners are very high. As they do not like conflicts, they hesitate for some time before raising unsatisfactory issues and, when they do, they make every effort not to hurt anyone as a result.

Adjectives that describe your type
introverted, theoretical, emotional, planning, idealistic, harmony-seeking, understanding, peace-loving, sensitive, quiet, sympathetic, conscientious, dogged, complicated, inconspicuous, warm-hearted, complex, imaginative, inspiring, helpful, demanding, communicative, reserved, vulnerable

Sunday, April 6, 2014

What The Survey Says about My Future

 What Your Survey Responses Say About You
Avatar Default
YOUR PROFESSIONAL PROFILE

LEADER

A student who possesses an inspiring attitude and searches for jobs where leadership skills are expected as well as developed. This student is not afraid of making decision and taking responsibility.
LEADERS tend significantly to be extroverts: highly assertive and maintaining a high activity level, they are more friendly, sociable and cheerful than average. Emotionally stable, these individuals are significantly less likely to be self-conscious or vulnerable to emotionality when confronted by stressful situations or conflict. Conscientious, they also tend to be more self-disciplined, achievement-focused, efficient, orderly, and cautious. In fact, Leaders are the most conscientious of all the career types. Further, Leaders tend to be more open than average – more adventurous, intellectually curious, and imaginative. Leaders may be somewhat less agreeable than some peers – less cooperative and sympathetic towards others in their pursuit of leadership roles. High extroversion, emotional stability, and conscientiousness, in addition to low agreeableness, have been found in several studies to correlate with individual success in the workplace.

I just took the test and felt moved... This is incredible. I know Isna, you can do your best when you believe! I dont know whwther this is a valid one, but it does motivate me...
Find yours at wfsurv.com/130idss14

This is beyond my own expectation. The careers that they offer me were above my ideals, EY, PWC, KPMG, Deloitte, Apple, Google, etc. Mostly international-based. Honestly, I really wish I could work as academician for a long-term life and serve in my sociopreneur charity activities. Those are great great careers but may be temporary careers for 3 years enough. I wonder why the result said so. I said my career preference is the one that cahllenge me with knowledge and self development yet offer me a work/life balance. My employer preference is the one who has personal development concerns towards the employee's development, strong leader, and nice working environment. From all the lists of the company, I chose Astra, Pertamina, and BI. Not any pf these a[[ear in the recommendations. This makes me wonder why. Anyway, thank you for the advice that boosts my motivation.



Saturday, April 5, 2014

Just A Little Thought on Democrazy


Ini adalah minggu tenang. Selingan di antara merampungkan kajian teori yang mengharuskan menamatkan minimal lima jurnal internasional untuk mata kuliah Metopen, saya iseng ingin sekali menuliskan sedikit pendapat  mengenai pesta demokrasi di Indonesia. Jujur saja, mungkin saya tergolong orang yang cukup skeptis soal politik dan demokrasi di Indonesia. Entahlah bagaimana mengurainya. Karena itu bukan ranah saya. Tapi saya sama seperti jutaan rakyat lainnya yang mempunyai cita-cita untuk kejayaan nusantara (kok jadi mars Gadjah Mada ya haha).

Fenomena yang muncul adalah orang-orang berebutan mencalonkan diri dengan berbagai motif dan latar belakang yang berbeda tentunya. Hanya saja, menjadi pemimpin itu tidaklah sesederhana menjadi Indonesian idol yang siap dipilih demi popularitas. Integritas dan profesionalitas adalah proses. Pada ranah ini, saya hanya berharap setiap kita dapat mempertanggungjawabkan kepemimpinan kita. Jujur, saya bukan orang besar dan punya kepemimpinan ideal, saya hanya sering berkaca pada diri sendiri. Saya merasa bersalah ketika keputusan yang saya ambil berdampak pada orang lain. Untuk semuanya yang pernah bekerja sama dan berhubungan dengan saya, terima kasih atas pelajaran dari kalian dan maafkan kekurangan saya :)

Ironisnya, pesta demokrasi terasa seperti ancaman belakangan. Bagaimana tidak, 40 kilometer/hari yang ditempuh seseorang yang ingin mencari ilmu (oops curcol) atau mereka yang setiap harinya menempuh perjalanan jauh untuk mencari nafkah untuk keluarganya dihadapkan pada ancaman jiwa atas kekacauan akibat kampanye dan perebutan kekuasaan. Mereka adalah rakyat juga. Namun, sampai kapan rakyat kita dibodohi dan digerakkan untuk sebuah ketidakberadaban? (waduh belibet bahasanya). 

Tentang itu, saya ingin memulainya dari kepemimpinan. Indonesia ini luaaaas sekali, memimpin Indonesia pastilah sebuah kepercayaan dan tanggung jawab yang besar. Konsep pemimpin seperti yang disampaikan dalam kuliah subuh tadi pagi, pemimpin ialah mereka yang diberikan amanah karena dia dipercaya oleh masyarakat atas kapabilitas dan integritasnya. Dalam al-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim (mttafaq'alaih), pertanggungjawaban akan diminta kepada pemimpin yang diberikan amanah dan orang yang memberikan amanah kepada pemimpin terpilih. Bahkan disebutkan, lagi-lagi saya adalah tipe pendengar jadi bisa ditinjau ulang sumber dari riwayat haditsnya, Allah memampukan dan menolong orang yang diberi amanah. Namun, Allah akan membebankan amanah kepada orang yang meminta amanah (jabatan), ya jabatan itu diberikan tanpa bantuan-Nya. Mungkin detail dan penjelasannya bisa dibaca langsung tentang riwayat hadits tsb. Saya juga bukan ahlinya. Tapi dua hal ini begitu berat rasanya melihat konteks dan relevansi dengan saat ini.

Sejujurnya, bagian sepele, normatif, yang sangat esensial menurut saya adalah etika. Bagaimana ethics, above the law and beyond the ideals-kata dosen pengauditan semester lalu-seharusnya menjadi perhatian dalam pembentukan karakter dan attitude bangsa yang tentunya dibentuk oleh masyarakat kita. Pemilu sebagai proses pendidikan itu harus segera dibenahi. Bagaimana caranya, hmm mungkin normatif lagi. Kembali kepada kesadaran dan tentunya keteladanaan dari orang-orang yang sudah menjadi figur masyarakat. Mempertanggungjawabkan amanah kita entah sebagai pemilih atau yang dipilih. Karena setiap kita adalah pemimpin entah memilih atau dipilih. Hmm semoga ada pencerahan ya. Semoga Yogyakarta yang berhati nyaman pun dapat menjaga kenyamanan hatinya seiring transformasi yang terjadi. Untuk menengok bagaimana proses pemilu khususnya kampanye di negara lain, menarik juga menyimak artikel berikut ini:


Pada akhirnya, selamat memilih untuk Indonesia. Saya hanya iseng ingin menulis begini. Memaknai kembali makna pesta demokrasi melalui satu puisi yang ditulis sastrawan Taufik Ismail. 


Taufik Ismail


Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah

abad yang lewat

Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu

kucatat

Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima

puluh lima

Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun

merdeka

Itulah pemilihan umum yang paling indah dalam

sejarah bangsa

Pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam

sejarah kita

Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah

jujur dan adil

Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma

dilaksanakan

Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi


Pesta demokrasi tak dilisankan, pesta demokrasi cuma

dilangsungkan

Pesta yang bermakna kegembiraan bersama


Demokrasi yang berarti menghargai pendapat berbeda


Pada waktu itu tak ada huru-hara yang menegangkan


Pada waktu itu tidak ada setetes pun darah

ditumpahkan

Pada waktu itu tidak ada satu nyawa melayang


Pada waktu itu tidak sebuah mobil pun digulingkan

lalu dibakar

Pada waktu itu tidak sebuah pun bangunan disulut api

berkobar

Pada waktu itu tidak ada suap-menyuap, tak terdengar

sogok-sogokan

Pada waktu itu dalam penghitungan suara, tak ada

kecurangan

Itulah masa, ketika Indonesia dihormati dunia


Sebagai pribadi, wajah kita simpatik berhias

senyuman

Sebagai bangsa, kita dikenal santun dan sopan


Sebagai massa kita jauh dari kebringasan, jauh dari

keganasan

Tapi enam belas tahun kemudian, dalam 7 pemilu

berturutan

Untuk sejumlah kursi, 50 kali 50 sentimeter persegi

dalam ukuran

Rakyat dihasut untuk berteriak, bendera partai

mereka kibarkan

Rasa bersaing yang sehat berubah jadi rasa dendam

dikobarkan

Kemudian diacungkan tinju, naiklah darah, lalu

berkelahi dan
berbunuhan


Anak bangsa tewas ratusan, mobil dan bangunan

dibakar puluhan

Anak bangsa muda-muda usia, satu-satu ketemu di

jalan, mereka sopan-
sopan


Tapi bila mereka sudah puluhan apalagi ratusan di

lapangan

Pawai keliling kota, berdiri di atap kendaraan,

melanggar semua aturan

Di kepala terikat bandana, kaus oblong disablon, di

tangan bendera
berkibaran


Meneriak-neriakkan tanda seru dalam sepuluh kalimat

semboyan dan
slogan


Berubah mereka jadi beringas dan siap mengamuk,

melakukan kekerasan

Batu berlayangan, api disulutkan, pentungan

diayunkan

Dalam huru-hara yang malahan mungkin, pesanan


Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan


Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah

kurasakan

Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku


Bangsaku.


*Puisi diunduh dari: http://www.lokerseni.web.id/2011/06/ketika-indonesia-dihormati-dunia.html



Friday, April 4, 2014

Inspiring Woman Talk with Asma Nadia


Sabtu, 15 Maret 2014 di Psikologi UGM

“Perjalanan selalu melahirkan cinta, kenangan, dan sesuatu yang membuat kita kian dekat dengan Allah.” (Nadia, 2013)

Sebuah backdrop besar dengan latar daun-daun warna kuning, merah, dan coklat seketika menghadirkan suasana musim gugur ke dalam ruangan. Seorang wanita berhijab merah muda dengan motif bunga-bunga menjadi fokus utamanya. Senyumannya menyejukkan. Semua yang berada di dalam ruangan menunggu kehadiran sang empu senyuman menawan itu.

Pemilik senyuman itu adalah Asma Nadia. Ia adalah salah satu sastrawan wanita Indonesia yang sudah melalang buana di berbagai belahan dunia. Nama aslinya Asmarani Rosalba. Dia adalah adik Helvy Tiana Rosa, dosen sastra UNJ dan sastrawan Indonesia. Asma Nadia pada tahun 2013 tercatat sebagai salah satu muslim berpengaruh di dunia. Dia telah menghasilkan lebih dari empat puluh buku, di antaranya telah difilmkan. Beberapa karyanya adalah Emak Ingin Naik Haji, Aisyah Putri, Rumah Tanpa Jendela, dan buku-buku nonfiksi (kepribadian) lainnya. Dia adalah seorang ibu, penulis, wirausaha, pendiri Forum Lingkar Pena, dan Rumah Baca Asma Nadia yang tersebar di berbagai daerah. Ia bersama suami dan kedua buah hatinya sama-sama gemar menulis dan telah menghasilkan berbagai buku.

Wanita adalah pemimpin. Pemimpin bagi siapa? Dalam  komunitas terkecil yang disebut keluarga, ibu adalah pemimpin bagi anak. Anak kelak akan menjadi penerus generasi. Menjadi seorang pemimpin bagi anak pun sama halnya ia telah memimpin keluarga, komunitas, bahkan menjadi penentu masa depan negara. Sebuah pengantar yang tegas dan jelas dari Asma Nadia.

Dia memberikan contoh dalam sejarah, hebatnya seorang presiden Korsel perempuan (nah ini perlu cross check lagi baru sekali ini denger ada presiden Korsel perempuan hehe). Pemimpin yang tidak punya alasan apapun untuk melakukan moral hazard. Maka, setiap pemimpin adalah mereka yang menerapkan konsep No Excuse! (bunda Asma mulai promosi bukunya pak Isa Alamsyah deh ya hah). Dan hal yang terpenting lagi buat pemimpin adalah bahagia dan berdaya. Pemimpin yang kaya. Kaya hati dan  kaya materi sehingga ia mampu memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Konsep Islam sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya justru telah diterapkan oleh orang-orang hebat di dunia yang mungkin belum begitu mengenal islam. Motto Oprah Winfrey, salah satu wanita terkaya di Amerika, “When you get, give! When you learn, teach!” Oprah Winfrey adalah wanita yang terlahir kurang beruntung dengan kondisi ekonomi keluarga yang kurang baik dan pelecehan seksual yang diterimanya ketika usianya masih sangat belia. Namun, dengan kekurangannya itu ia bisa membalik keadaannya.

Pesan bunda Asma Nadia nih buat pemimpin, “Pemimpin adalah mereka yang tidak hanya mampu memimpin diri sendiri tetapi ia juga mampu menginspirasi dan memimpin dunia." 

*Resume talkshow ini entah di mana yang full version ini talkshow campur-campur lah ada soal kepemimpinan sampai soal jodoh haha.. jadi ceritanya ini udah lama disalin.. hal yang paling malesin itu nyalin catetan ke computer hehe. Nah, habis itu malah laptop-nya drop kena virus dan well, entahlah ganti2 komputer di perpus dan labkom dan sepertinya file lengkapnya ada di satu computer entah dmna.. tenang, habis uts kalo free (pake syarat) tak ketik ulang deh salinannya…

OOT, tau ga ada satu similarity antara saya dan bunda Asma? Namanya sama-sama berima a a. Bukaan.. Kami ternyata sama-sama pernah cedera otak ehm gegar otak. Tiba-tiba jadi keinget kejadian yang paling ingin aku lupakan yaitu kecelakaan, dan entah kenapa kepalanya muter muter berhari2.. Bisa dibilang lupa ingatan, lupa kenapa bisa jatuh, lupa hr itu ngapain, tapi inget data-data pribadi dan nalar masih jalan.. Alhamdulillah sih sampai sekarang ga kenapa2 hmm udah melupakan itu malah.. Meskipun kami sama-sama punya background itu, dan riwayat pendidikan yg ga jauh beda.. Tapi semoga ga akan jadi penghambat ya, saya ingin menyelesaikan amanah studi dngan sebaik-baiknya doakan ya. Jalan hidup bunda Asma keren banget, bisa dibilang dia berani ambil risiko dan berkomitmen.

Makasih special buat Nita Wakaaan, makasih bangeet akhrnya bisa hadir di sini.. sedih tapi ga ketemu Nita, Nita yg ngajakin ke sini lagi ke Surabaya ya... Waah.. Kukira aku bakal kaya orang ilang krn pas Nita ngajakin di kls Akt Syariah kyanya ga ada yg ngeh sm Asma Nadia Huft. Eh syukurlah, ketemu mba Nida dan mba Retno yeyeye ga jadi anak ilang :D

Oh ya, Fina jd Project Officer ini lho, pantesan keren! Terima kasih Fina sdh bikin acara keren ini. Dan, alhamd bisa ketemu mama dan adeknya Fina :3 Lama sekali ga main ke rumah Fina, akhirnya ketemu beliau dan dek Anin.. Tiba-tba rindu masa2 sma, waktu itu lumayan sering mampir buat mbongkar koleksi bukunya Fina. Biasa ga ada modal jadilah minjem hehehe. Barakallah Fina, semoga semakin bercahaya di manapun berkarya J

Hei, btw, aku masih punya mimpi yang belum terwujud hingga saat ini. Mimpi yang sempat menyala ketika akhirnya berkesampatan gabung dengan sebuah komunitas nulis lalu meredup kembali karena dunia akuntan lebih kejam ternyata haha. Ya, sebuah pagelaran sastra di Kota Jogja. Anak-anak berapresiasi sastra. Aku kamu kita berapresiasi sastra. Di setiap sudut kota, jalan-jalan, bahkan di antara pematang sawah. Sastra itu lekat sekali bukan. Bahkan akuntan, politisi yang sedang sibuk beradu puisi, dan percayalah kita seringkali butuh sarana untuk menyampaikan sesuatu, bahasa.. Dalam bisnis pun, bahasa yang digunakan adalah akuntansi ah mulai deh.. Jadi ya, Allah ngasih jalan di Akuntansi biar belajar gaya bahasa baru kali untuk yg masih awam dg dunia bisnis seperti aku. Meski ya, bahasa paling tulus menurutku ialah hati nurani. Ia berbicara tanpa bahasa.

Menghidupkan kembali sastrawan-sastrawan bahkan yang telah terkubur oleh jaman. Dan tentunya, aku bermimpi bisa bersama-sama Sapardi, Taufik Ismail, Wiji Thukul, dan maunya sih Rendra yang juga dari Jogja. Dan tentunya kakak beradik yang istimewa-Helvy dan Asma Nadia. Ahahaha, you may say I’m a dreamer. Yes, you may be right. But, I’m not the ordinary one. Hehehe. Semoga suatu ketika bisa ya. Nerjemahin cerpen sendiri aja nggak kelar-kelar, berharapnya Papa Jo Mama bisa baca tapi apa daya bikin terjemahan emang ga segampang membayangkannya ahaha T_T

Maaf kalo bahasanya rada labil ga jelas, udah salinan resume nya ilang, ditambah ocehan ga jelas hehe semacam break dari UTS dan di antara jurnal-jurnal buat metopen yang lama-lama bikin mual juga haha… Pekan depan masih empat makul nih huhu, so KEEP ON FIRE!

inspiring women wanna be :B



 Nurisma Najma with Asma Nadia, :)


Friday, March 7, 2014

Renaissance of The Reminiscent Miracle of Life



There can be miracles when you believe. Though hope is frail, it’s hard to kill. Who knows what miracles you can achieve.. When you believe somehow you will.. You will when you believe! This was my high school soundtrack of drawing the dreams.. and I would like to have a renaissance of reminiscent of this song as the soundtrack of my life since this song really gives me so much hope and dream.. Perhaps if I could go back at the time when I did my part for the selection of Siswa Berprestasi DIY in Bangsal Kencana, I would sing this song instead of I Have A Dream. I was in my junior high school that time, I didn’t recognize the song When You Believe yet hehe..

No one else would really understand the gloomy feeling of a farewell. May be if anyone else had the experience of long distance relationship or marriage, I do feel the same. No I’m kidding. I have handled this kind of feeling but not the same thing, it’s a long distance family-ship for almost 4 years now. Yes, mom and Lili have become part of my life. No one in my family would understand this feeling. However this makes me appreciate any thing more than anyone else. I’m pretty sensitive you know. And I realize that everyone has her own bliss and life challenge that sometimes we donot even realize.

 I traveled all the way to the airport. I dont know why I did this. I just thought of this as the only thing I could do. Nothing more. No expectation. I just thought sometimes a little thing you do is so meaningful for others. That was what I have felt in my life when a simple appreciation is more valuable. 

Dear Allah, I have been thankful for each miracle in my life. For all the happiness and sadness.. For the thrill of struggle, the sweetness of success, as well as the bitterness of failure. It makes my life alive. Thank you for everyone who comes through my way of life, you have made my life more meaningful, thanks to anyone throughout my life. Thank you Allah.

Yesterday I met Ms Mien. She presented about Toastmaster. I love the way she handled the class. The way she communicated. I just loved. I wished that each of my class has this atmosphere of learning, wouldn’t it be more enjoyable? She said, I have a beautiful English. That impressed me so much. She would say go for it and that motivates me alot. She reminds me on Mom. And Ibu at a different way but the same meaning. Having those great women in my life is such the best gift I have ever had. 

Today Mr. Zaki told me thru email about meeting up with Ms Mien. I attempted to arrange the time. Since I had class since 7am it was too late when I read the email. It was a pretty tight day and schedule. I just figured out that her flight would be at 4. I rode my motorbike as fast as I could. I made it by 3.30 at the airport. I would like to say goodbye and send her wishes with my thank-you note and  a lil present. But the time wouldn’t allow us. She’s in the plane already n will be leaving in 10 minutes. She wouldnt be able to get out of the plane to see me. But, I’m happy I feel relief that I did my best that I appreciate her as much as I could.

I went back with a mixed feeling. I hate my self for having this typical emotion. I’m an introvert but I would do anything to express my feelings freely. Much of the time, it is such an embarassing thing. But that is the only way I talk. That is the only way I express my feeling. I’m not feeling sad and disappointed. I was just happy for having expressed it on my own way though people would misunderstand me. That’s what a relief is for me. Theres no medicine for this. I just need to be all by my self for a self contemplation. I kind of having reminiscent moment of having farewell with mom and Lili. I was kind of having a reminiscent moment back when I was enjoying my year in WW with Jade as my best friend, when she suddenly had to leave me. Yes, her friend in China suicided. The way her friend suicided made a deep guilty feeling on her. So, she had to see the psychiatrist and finally figured out that the best way for her was that she had to leave and go back to China according to the psychiatrist. I was really frustrated. She’s my best friend. She’s like my own sister in this strange life I have never imagined. Allah why would you take her away from me and leave myself alone here? I kept questioning. It was a hard emotional time for me Jade and anyone. We passed it though. We didn’t see each other for a farewell. It was an emotional and silent farewell. It wasnt that we ignored each other but it was that we didn’t have enough courage to say good bye.  

Adisutjipto has witnessed so much memories. I picked Mr. Paul Wouters last time for the seminar. I was so excited at that time. I brought a bucket of orchids and I knew it was special. Yes, airport is a reminiscent of memories. It was like a ‘blind movie’ in my life. Thanks.

This is my thank-you-note. It;s a simple one but I imagined I put it in my hand-made purse. Oh well next time she comes back I'll hand her this souvenir :))