lovely picture

Tuesday, October 7, 2014

Ketika Rindu adalah Doa

Ketika ekspresi rindu adalah doa
Tak ada cinta yang tak mulia.

Seperti gerimis kau hadir tanpa suara. Kau masuk tanpa mengetuk. Dan aku hanya bisa duduk di sini. Menunggu. Tak ada daya untuk berbuat sesuatu.

Kepada hujan barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia.


Berhenti di sana. Jangan lagi kamu berjalan meski pelan-pelan. Aku takut ketika kamu jatuh, tanganku belum siap di sana untuk menangkapmu.
Jadi tunggu dulu.
Tunggu. Sampai mulutku tak lagi gagu. Sampai bicaraku lancar tanpa harus fokus pada jantung yang dengan cepat  berdebar. Aku tidak akan mengatakan kata-kata yang diucapkan kebanyakan orang: Pasaran. Bualan. Jadi biarkan aku berkreasi sambil membaca situasi.
Dan selama itu, silahkan kamu menunggu.

Setelah jatuh aku memilih jauh. Tapi jarak, sepertinya memang dicipta untuk dibuat luruh.

Adalah merekam, satu hal yang paling menyenangkan dalam hidup ini. Adalah memutar ulang rekaman dan menertawakan segala kebodohan yang terekam di dalamnya hal paling menyenangkan nomor dua. 

Sebab itu kita suka menulis. Sebab itu kita suka memotret-atau dipotret. 

Barangkali karena sebagian kebahagiaan tak bisa diulang, kita menjadi pecinta rekaman-rekaman-menjadi pengagum kenangan-kenangan. Barangkali karena kita tak punya kuasa untuk memaku waktu, kita mengenang keindahan yang kita jumpai dalam gambar-gambar, dalam kata-kata-rentetan aksara yang bisa kapan saja kita baca.

Aku menunggu. Kamu menunggu. Meski terkadang menunggu tak seinci pun menyeret kita untuk bertemu di titik rindu. Tapi, ah, adakah yang lebih indah dan syahdu dari dua jiwa yang saling menunggu? Yang tak saling menyapa, tapi diam-diam mengucap nama dalam doa?


Kesiapan untuk menjaga, merawat, dan menumbuhkan seseorang menuju derajat kehidupan yang lebih tinggi. Dan kesiapan selalu mensyaratkan dua hal: kemantapan hati dan kemampuan. Kita baru bisa dikatakan siap mencintai bila hati kita mantap dan kita mampu menunaikan pekerjaan-pekerjaan para pecinta: menjaga, merawat, dan menumbuhkan.

Kubicara pada udara yang tak pernah pahami rasa
...
Kubicara pada bulan purnama yang tak pernah selalu ada
seperti dirimu yang jauh dariku.
Kini semua tlah usai, 
jarak telah luruh.
Rindu telah kita sulap menjadi temu.
Tuhanlah yang Maha Romantis
tuliskan kisah fantastis
...
Menyatukan gambar kita dalam bingkai yang apa adanya.


Ketika ekspresi rindu adalah doa
Semua cinta adalah jalan surga.


(Tuhan Maha Romantis)*
***

*sebuah rangkaian kata medley, dari sekumpulan mutiara Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala. 

Saturday, October 4, 2014

Cerita Sebuah Gedung Tua: Pemaknaan terhadap Pengorbanan

Sebuah gedung tua. Berderet motor yang berjejalan di sudut timur dan utara. Beberapa mobil berjejer rapi di sepanjang jalan yang membentuk lengkungan sempurna. Jalan raya mengelilingi setiap senti bangunan tua. Bangunan tua yang dulu hanya ditatapnya dengan skeptis setiap sesekali ia berkunjung ke kota. 

Tak pernah sekalipun tempat itu masuk dalam daftar impiannya. Namun, nyatanya tempat itu menjadi salah satu pijakan yang membawanya sampai pada titik di hadapannya saat ini. Bukan sebatas memori dan kenangan tetapi perjalanan, pencarian, dan pemaknaan. Saat pertama kali dengan langkah ragu-ragu ia dekati bangunan tua yang tampak begitu kesepian. Paradoks antara kebisingan kota dan gedung tua. Bukan pertama kalinya tentunya. Dulu pernah ia berada di sana beradu soal ilmu alam yang sedari kecil disukainya kecuali mata pelajaran ilmu alam yang banyak hafalannya. Namun, saat pertama kali benar-benar menginjakkan kaki menjadi bagian darinya, separuh darinya bertanya. Benarkah ini tempatnya? Tak percaya. Ini sungguh asing. Ia mematung di sebuah aula meja registrasi. Pikirannya melayang-layang membayangkan pegunungan yang asri dan sebuah tempat yang selama ini diimpikannnya. Seorang ibu dengan setia menemaninya. Bahkan ketika ia tak kuasa melangkah dan berlari-lari ke seberang jalan. Apa yang dilakukannya? Untuk kesekian kalinya, ia mencoba meyakinkan dirinya. Di sebuah warung telepon, diteleponnya bapak. Orang yang selalu bijak di matanya. Orang yang kata-katanya selalu membuatnya menunduk untuk merenung. Benarkah ini tempat yang tepat? "Insya Allah, dicoba dulu Dik." Suara bapak di seberang membuatnya yakin. Kedua ibu anak itu pun beriringin menuju bangunan tua itu.

Kali ini kakinya melangkah sedikit lebih mantap. Berdiri dalam antrian dan kerumunan orang yang pastinya sedang memperebutkan nasibnya masing-masing. Pemandangan yang membuatnya semakin gamang. Ia kembali mematung menatap jendela yang telah menua. Seorang ibu masih setia berdiri di sampingnya. Tiba-tiba sebuah suara mendatanginya. Seorang bapak tua berdiri di dekat jendela. Entah siapa dia. Tiba-tiba saja menghampirinya. Entah apa maunya. Dia hanya berbisik, "Hei Nak, apa yang membuatmu ragu? Di tempat ini lahir orang-orang besar. Berjuanglah." Aku takjub. 

Tujuh tahun sejak pertama kalinya si anak menjadi bagian darinya. Sebuah siang yang meneduhkan. Ia berjalan menyusuri sisi timur dan selatan. Taman kota yang dahulu selalu di lewatinya setiap hari. Menyusuri lengkungan sempurna yang mengelilingi setiap senti bangunan tua itu. Di matanya terlihat segerombolan anak berseragam putih biru, seragam yang masih harus dikenakannya, sedang berdesakan di depan pos satpam. Mereka anak-anak baru yang tengah menyelesaikan tugas-tugasnya. Di parkir yang luas itu, teronggok sebuah polygon merah tua sendirian. Mungkin dua sepeda lainnya sudah pergi. Semua potret yang hanyalah lusi. Membuatnya bernostalgia banyak hal di sana. Hingga pada akhirnya di tempat yang mungil dan selalu meneduhkan itu dia selalu merasakan hidupnya berputar kembali, jiwanya menyala kembali. Setiap kali menemukan wajah mereka seperti melihat dirinya beberapa tahun yang lalu dengan keluguan yang sama. 

Hari itu ada yang berbeda ketika ia langkahkan kakinya di tempat yang sama. Kerinduan yang menyeruak begitu saja. Dua bulan kami tak bertegur sapa. Bagaimana kabarmu? Aku bahagia melihat kalian masih sama. Merinding tepatnya. Kalian sudah semakin dewasa. Ketika harus membagi apa-apa yang telah aku lewatkan aku begitu ragu. Batinku, siapa aku? Apa yang bisa kubagi kepadamu? Hei aku bahkan merasa tak punya apa-apa. Pesan itu mengatakan agar aku menyiapkan beberapa foto untuk ditampilkan. Saat itu aku bingung, foto seperti apa yang seharusnya aku tampilkan. Kubuka kembali kenangan-kenangan manis yang tersimpan dalam memori komputer. Kau tahu, setiap kali membukanya, aku selalu ingin memutar waktu. Menghabiskan waktu bersama kalian begitu berharga bagiku. Merenungi perjalanan yang telah dilewati terlalu bermakna bagiku. Aku ingat sebuah video perjalanan bersama kalian semuanya.  Akhirnya gambar bergerak yang terangkum dalam 3 menit itu sudah cukup membagi apa-apa yang selayaknya mereka tapaki selama di tempat ini. Dan perjumpaan itu membuatku semakin tak rela untuk pergi tanpa apa-apa. Sepertinya aku selalu merindukan saat-saat berbagi bersama kalian.

Sebuah Jumat selalu menjadi hari raya yang patut dirayakan. Menemukan cahaya yang menyala. Sebuah bara yang menyalakan sumbu yang mulai layu. Hanya dengan bertemu kalian itu sudah cukup membuatnya kembali bersinar. Terima kasih Sita untuk semuanya, untuk kesempatan yang sangat berharga, untuk membuat kehidupan kembali berputar.

Sebuah kekakuan yang wajar. Ia berpikir keras. Tiba-tiba ia teringat sebuah permainan "Dare to" yang mencairkan kebekuan kelas dalam perjalanan dari Walla Walla-Portland untuk sebuah lomba paduan suara. Permainan itu sangat simpel hanya dengan menghitung jari lalu menunggu giliran untuk menjawab setiap Dare to yang diajukan. Tentunya dare to adalah sesuatu yang telah/belum kita lakukan. Di sanalah terungkap semua kisah, pengalaman, dan perkenalan tentang siapa kita yang mampu menghancurkan benteng-benteng awkwardness yang telah tercipta di antaar kita. Maka aku memilih mmebuat permainan serupa. Tetapi lebih tepatnya dengan tulisan tanpa diungkapkan secara langsung. Lalu menebak setiap isi tulisan siapa  kira-kira orangnya. Bukankah itu cara terbaik untuk mengukur seberapa kita dekat dengan kawan kita dengan seberapa tahu, paham, dan mengerti kita pada pribadinya? 

Pertanyaan darinya, benda apa yang telah sepuluh tahun kau simpan? Beragam jawaban yang muncul. Selimut tweety, piala, ijazah, jawaban lugu dan tak terduga. Kau tahu apa jawabannya? Surat-surat dari sahabat, dari Isna, Khad, dan Ana yang paling mendominasi. Pertanyaan seorang anak yang membuatnya berpikir keras. Merk sepatu apa yang paling kamu suka? Ia terpaku. Nike yang sering didengar tapi melirik saja tak pernah apalagi memilikinya. Merk, ia sama sekali tak pernah melihat merk sepatu. Tepatnya tak ada merk yang pernah benar-benar menarik perhatiannya. Mungkin saking tak pedulinya ia pada aset tak berwujud yang sangat berharga bagi perusahaan itu meskipun itulah hukum yang berlaku di pasar. Ia hanya percaya bahwa invisible hand dalam pasar tak selamanya apa yang diinginkan hati setiap orang. Ia sering membenarkan bahwa ada tangan Tuhan dalam invisible hand. 

Hanya ada sebuah pengalaman yang tak terlupakan soal sepatu lokal yang tak bermerk. Sepatu warna hijau lumut yang telah menyeberang samudera hingga berlubang dan ia tinggal sebagai kenang-kenangan untuk Walla Walla. Ketika ia menunggu bus sekolah, seorang anak yang baru dikenalnya mengajaknya berdiskusi. Mereka berbincang banyak hal. Dia ternyata tertarik sejarah dan ilmu sosial. Dan yang terhebat dia tahu Indonesia. Setidaknya dia pernah membacanya di buku sejarah. Rasanya bangga. Tak banyak yang seperti itu. Lalu perbincangan mengalir kepada cara kami berpakaian. Menarik sekali. Dia berkata, "Seandainya semua wanita memakai pakaian tertutup sepertimu pasti kehidupan begitu tenang." Aku terdiam mencerna kata-katamu. Ya, barangkali. Setidaknya hal itu juga mengurangi penduduk neraka dari kaum hawa yang katanya paling banyak menghuninya. Lalu kau takjub pada sepatu ijo lumutku yang sebenarnya secara fisik biasa saja, sangat tak spesial. Tapi kau begitu excited. "Wah di mana kau dapatkan sepatu ini? This is soooo coool. I havent seen this kind of shoes." Kau bahkan ingin mencobanya. Ku angkat kakiku agar kakimu yang sedikit lebih besar bisa masuk ke dalam lubangnya. Kau takjub. PX Style itu yang tertulis di sana. Sepatu ket yang kau kagumi itu hanya aku beli di Jalan Mataram. Aku hanya tertawa ketika kau begitu iri menatapnya penuh keinginan. Datanglah ke Indonesia kau pasti menemukan banyak sepatu ini dijual di pinggir jalan. Itu kata-kata terakhirku saat bus kuning itu datang.

Lalu, ketika semua fakta telah kita ungkap aku hanya berharap tak ada lagi dinding-dinding yang memberikan jarak di antara kita. Kulirik jam. Tidak, sayang sekali waktuku tak banyak. Aku bahkan belum menyampaikan apa yang sejatinya ingin aku sampaikan. Tentang konsep pengorbanan nabi Ibrahim yang sedang aku coba pahami baik-baik. 

Seorang ayah yang mendambakan kelahiran anak pertamanya tak kunjung pula dikaruniai anak. Suatu malam ketika ia bersujud dan bedoa agar dikarunia anak, istrinya diam-diam mendengar doa itu. Sebagai seorang wanita, ia begitu terpukul. Ia memutuskan untuk merelakan sang ayah untuk menikah kembali untuk mendapatkan keturunan. Begitulah, pengorbanan wanita itu akhirnya terbayar. Sang ayah pun menikah kembali dan dari istrinya itu terlahir anak pertama yang sangat di sayanginya, Ismail kecil. Tepat saat itulah sang istri mulai cemburu. Ismail kecil dan Siti hajar ditinggal di tengah gurun pasir. sang ibu melakukan perjalanan dari Sofa-Marwa mencari sumber air. Ketika pada akhirnya air justru keluar dari kaki Ismail yang tergeletak di atas pasir.  

Ismail putra pertama yang teramat disayanginya harus direlakannya pergi pada usianya yang sangat belia. 13 tahun sang putra mulai tumbuh dan tentu teramat dicintainya. Saat itulah ia justru mendapat pesan Tuhan melalui mimpi untuk merelakannya. "Anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku mengorbankanmu. Bagaimana menurutmu, Nak?" "Wahai Ayah, lakukanlah seperti apa yang diperintahkan Allah. Jika Allah yang berkehendak, niscaya aku akan bersabar." 

Begitulah, romantis sekali cinta kedua anak dan bapak itu untuk Tuhannya.

"Bukanlah daging/darah yang kau korbankan itu yang akan mencapai Allah, hnanya ketakwaan (keimanan)mu yang akan mencapainya..." (Al Quran)

Allah ingin kita belajar dari Ibrahim, kerelaaannya mengorbankan anak yang disayanginya. Dalam sepuluh hari ini, the ten days, al ayyamul ashr, yang lebih utama dari sepulluh malam utama, doa-doa diijabah oleh-Nya. The days of eating, drinking, and most of it, remembrance of Allah. Kita punya tugas besar bersama dalam waktu kurang labih 10 hari ini. Apa yang bisa kita korbankan untuk Allah? Pertanyaan besar yang hanya kita yang bisa menjawabnya. Aku bergetar dengan kata-kata yang keluar dari mulut penuh dosa ini. Sesuatu yang kita sayangi hingga kita berani mengatakan, "Wahai Allah, inilah hal yang begitu aku sayangi, yang mungkin telah menghalangiku untuk selalu mendekati-Mu. sungguh kuatkan aku untuk mrelakan hal ini untuk mendekat kepada-Mu." 

Hening. Kalian mendadak diam. Kita sama-sama terpaku. Berat sekali menyampaikan ini karena aku pun masih mencoba melakukannya. Merenungkan dan mengorbankan apa-apa yang selama ini menghalangiku untuk mendekati-Mu. Waktu menghadap-Mu yang  masih kutunda. Hati yang berdebu. Mulut, mata, tangan, ya Allah semuanya milik-Mu. Apa yang bisa kurelakan? Semoga Engkau pun rela membersihkannya dan menguatkan setiap kami yang begitu lemah. Dan menguatkanku untuk benar-benar merelakanmu.

"Liabilities are probable future sacrifices of economic benefits, arising from present obligations of a particular entity to transfer assets or provide services to other entities in the future as aresult of past transactions or events." (Porwal, 2011) 

Pada intinya dalam perspektif akuntan libailitas (kewajiban) manusia kepada Allah, beribadah kepada Allah, adalah pengorbanan paling sederhana yang bisa dilakukan seorang manusia. Sebuah pengorbanan yang kita sadari bahwa yang kita miliki adalah liabilitas, hanyalah titipan, yang kelak akan dimintai pertanggungjwabannya kepada sang pemilik sejati, Allahu rabbi. Astaghfirullahal'adhiim. Apa yang telah kami lakukan selama ini?

Kini Idul Adha tiba. Wahai Allah, Pemilik segala, dan Arsy yang meliputi langit dan bumi, jadikanlah kami selalu belajar merelakan. Mengorbankan apa-apa yang sejatinya bukanlah milik kami. 

Wallahua'lam bishawab.

Aku meninggalkan gedung tua penuh cerita dengan perasaan yang bercampur-campur. Pikiranku berkelana mengikuti langkah kaki yang mulai menjauh. Betapa banyak yang harus kupelajari dan kuubah untuk mengorbankan, merelakan, dan menerima semuanya. Apakah yang bisa kukorbankan? Adakah sesutau yang layak dan sanggup kukorbankan? Sebab Engkau sama sekali tak membutuhkan pengorbanan itu. Bukan darah, bukan daging, bukan apapun yang akan mencapai-Mu. Lalu, kuatkah aku menjaga iman-the piety-the devotion, sebagai satu-satunya yang mampu mendekatkan kepada-Mu? Betapa aku masih begitu jauh...



Thursday, October 2, 2014

Percakapan Hujan

Hujan yang jatuh tak pernah benar-benar jatuh. Ia akan tumbuh. Airnya diserap akar pohon. Lalu, ia tumbuh. Hingga benar-benar mekar.
Titik-titik air langit seolah meluncur lepas.
Jatuh bebas.
Syahdu.

Tunggu, ini bukan bulan Juni.
Sama sekali bukan.
Lalu, mengapa rasa-rasanya seperti Hujan Bulan Juni? [1]

Pun ketika menatap langit dan bertanya.
Langit tak benar-benar menjawabnya.
Dia hanya tersenyum dengan seulas pelangi di wajahnya.

Pelangi selepas hujan turun...
Eh, itukah jawabannya?
Aku tak mengerti.
Hei langit, mengapa kau begitu pandai menyimpan rahasia?
Barangkali aku tak cukup mengerti bahasa langit.

Dan, hujan yang jatuh itu...
Kau tahu, kau tak pernah benar-benar jatuh.
Sebab setiap saat kau jatuh, kau akan selalu tumbuh.

Mengapa kau tumbuh?
Karena airmu diserap akar-akar pohon.
Niscaya, kau hidupkan bumi ini.
Jadi kau tahu, kau benar-benar tumbuh.
Kau hanya perlu waktu untuk benar-benar mekar.

Udara membawa pesan dari langit
Seperti radiasi yang menghantarkan
uap hujan kembali mengangkasa

Bukankah bahagia itu sederhana?
Sesederhana percakapan hujan
dan semerbak aroma hujan yang tersisa.
***

Oktober, sudahkah memasuki musim penghujan? Namun, hujan tak kunjung turun. Padahal hujan begitu menenangkan. Dan bukankah salah satu waktu mustajab untuk doa adalah di kala hujan? Lalu, kapan ia akan turun, biarlah menjadi rahasia langit.

Paket buku yang baru sampai pekan ini membuat saya terinspirasi menulis puisi (lagi) setelah beberapa hari lalu menulis juga hehehe. Tidak semua tulisan di-publish di sini. Selain juga ingin melarikan diri sejenak karena sudah lelah mentadaburi Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) yang jumlahnya delapan dengan tingkat bahasa yang oh well...

Ngomong-ngomong, jika akuntansi dan audit memiliki standar dan kode etik, bagaimana dengan puisi? Ada sih semacam... seperti di surat Asy Syuara pernah kok ditulis di blog ini. Tapi yang paling menarik dari puisi ialah bebas untuk diinterpretasi oleh pembaca. Apapun, semoga puisi ini cukup mutiperspektif jadi interpretasinya lebih leluasa bebas deh, mau diartikan apa menyesuaikan keinginan dan kondisi pembaca.

Kalau ingin tahu interpretasi penulis terhadap puisi ini... Biarlah jadi rahasia antara langit dan hujan saja. Hehe. Tidak ada hujan tidak ada apa. Hanya sedang ingin bercakap-cakap dengan hujan. Tapi kok nggak ada hujan ya. Lagi-lagi absurd. Selamat menikmati percakapan dengan hujan (buatan). :)


[1] "Hujan Bulan Juni" puisi karya Sapardi Djoko Damono, 1989

Friday, September 19, 2014

The Journey, This Way!


Verily, in the creation of the heavens and the earth, and in the alternation of night and day, and the ships which sail through the sea with that which is of use to mankind, and the water which Allah sends down from the sky and makes the earth alive therewith after its death, and the moving creatures of all kinds that He has spread therein, and in the veering of winds and clouds which are held between the sky and the earth, are indeed signs for people of understanding.
(Al Baqarah: 164)



The journey, this way, seems so far away. 
Yet, you! Yes, you! Don't you give up anyway. 
For Allah promises, there is a finite end to this. 
Whether it be happy or misery after all, you decide which way.



Be grateful, be strong. Keep going on.
It is always fine to find some resting place to keep the remembrance. 
Verily, only the remembrance will the heart find home, 
the peaceful resting place to be at last.




Thursday, September 11, 2014

Mahabbatullah

"Aku sesuai dengan prasangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati0-Ku sehasta maka Aku akan mendekantinya sedepa. Dan apabila dia mendatangi-ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari." (HR Muslim)

Mahabbah itu ibarat pohon (kecintaan) dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah ma’rifah kepada-Nya, rantingnya adalah rasa takut kepada siksa-Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepada-Nya, bahan penyiramnya adalah dzikir kepada-Nya; kapan saja jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah.  (Ibnu Qayyim)

Taqwa adalah meninggalkan apa-apa yang dimaui oleh hawa nafsumu, karena engkau takut. Takut kepada Allah, ridha dengan ketentuan-Nya, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti. (Imam Ahmad bin Hambal)

Dan dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Al Hadid:4)

Terima kasih sahabat, nasihatmu selalu menyejukkan. Betapapun aku selalu jatuh. Astaghfirullaah banyak sekali dosa bahkan yang terlihat karena tersimpan dalam-dalam.. Terima kasih sahabat untuk selalu ada, menunjukkan secercah cahaya, menuntun langkah ini untuk selalu kembali. Semoga Allah melindungi kita di manapun dan kapanpun.

"Jika kau jatuh cinta pada seseorang, sesungguhnya Allah tengah menguji seberapa besar cintamu kepada-Nya."

"Jalanilah hidup tanpa logika sebab semuanya akan berjalan di luar logika." 

Untuk kalian yang merasa hilang arah, galau, atau apapun. Ada sebuah kisah yang indah yang ditulis seorang kawan yang kemudian diangkat menjadi sebuah film yang digarap bersama orang-orang kreatif keren dunia akhirat. Sebuah film produksi Sm@rt Syuhada, Sahabat Pelajar Jogja. Meskipun sudah lamaaaa sekali, film ini selalu memberi saya pelajaran dan megingatkan saya. Bahwa ada yang memegang hati setiap manusia. Dialah Allah, Maha dari segala Maha. Mahabbatullah.

Saya belajar banyaaak sekali dari proses pembuatan film ini. Menjiwai setiap baris kata, pesan, dan ayat yang disampaikan ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Memang tak mudah mengaplikasikannya. Selalu butuh proses. Untuk menterapi hati. Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.

Betapa saya harus belajar banyak dari kisah Aini. Ceritanya sangat universal, sederhana, dan mengena. Judulnya unyu banget. Cinta Roller Coaster. Film ini bercerita tentang kehidupan anak SMA yang ber-setting di SMA 1 Yogyakarta. Meskipun ber-setting di SMA 1, kisah ini sungguh universal dan sangat relevan bagi anak-anak muda di manapun, khususnya yang sedang mencari jati diri. Mencari makna Cinta yang sesungguhnya. 

Untuk potongan baris, kuotasi, dan ayat yang mengena sudah pernah saya tulis di blog melalui link berikut ini... http://nurisma-najma.blogspot.com/2013/07/ketika-cinta-memanggil-rindu-rindu-rabb.html
Semoga mencerahkan. :)

Wednesday, September 10, 2014

Notes on Strategic Thinking

Setelah mengambil mata kuliah akuntansi manajemen di kelas bu Wulan saya mulai menikmati sisi challengingdan menyenangkan dari akuntansi dua semester yang lalu. Sisi menarik tersebut berasal dari penggunaan informasi akuntansi secara internal dalam akuntansi manajemen. Ya bagaimana tidak menarik, di sana tidak ada standar baku layaknya SAK atau PABU atau GAAP. Alasan mengapa tidak ada standar baku dalam akuntansi manajemen ialah masingmasing entitas bisnis memiliki corporate culture, visi, misi, dan strategi yang berbeda sehingga akuntansi manajemen menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi internal perusahaan. Hal ini akan sangat berbeda dalam pengelolaan informasi akuntansi bagi external user yang membutuhkan sebuah penilaian berdasarkan standar baku.

Strategic management menjadi mata kuliah pilihan setelah cukup berkutat dengan akuntansi manajemen lanjutan (akuntansi manajemen startejik). Alhamdulillaah mendapat kesempatan belajar dengan CEO langsung, Dr. Rangga Almahendra, S.T., M.M. Orang yang pertama kali saya kenal justru lewat tulisannya, 99 Cahaya di Langit Eropa yang kemudian mempertemukan saya dnegan mbak Hanum dan pak Rangga di sebuah acara penulisan 99 Cahaya di Langit Eropa bersama Komunitas Penulis Pelajar dan mengundang beliau pulang ke almamater padmanaba. Bersyukur rasanya berkesempatan mengenal orang2 keren ini,

Mata kuliahmata kuliah ini memang tidak wajib alias pilihan. Mengapa saya memilih dan tertarik belajar di mata kuliah ini? Salah satu alasannya (penerapan dari strategic management) ialah misi untuk memiliki kompetensi manajemen dan akuntansi manajemen stratejik dalam mendukung visi jangka panjang untuk merealisasikansebuah cita-cita. 

Sebuaheducational institution yang memiliki values yang bersifat holistic yang menjadi pusat peradaban di berbagai sudut dunia (global) dalam 30 tahun. Masih abstrak mungkin ya, intinya sih mencoba bisa sevisioner CEO Coca Cola yang ditayangkan dalam video di kelas bahwa visinya adalah menjadikan coca cola sebagai the number one beverage in the world menggantikan teh, wine, bahkan air putih dengan softdrink. Visi yang barangkali gila. Tapi alasan 30 tahun ini ialah sebuah early education yang dirancang bertahap untuk kemudian akan mencetak para pemimpin (khalifatufil’ardh). Mungkin konsep yang masih amat snagat abstrak. Tapi itulah cita-cita yang ingin sekali dapat diwujudkan dalam sisa hayat nanti.

Salah satu hal menarik dari akuntansi adalah kemampuan akuntansi dalam mengontrol atau mengendalikan perilaku manajemen maka mata kuliah advanced dari akuntansi manajameen adalah sistem pengendalian manajemen (management control system) yang merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana mengatur perilaku manajer dan starteginya. Ilmu wajib dan menjadi salah satu mata kuliah untuk ujian kompre Akuntansi. Mata kuliah ini justru tidak ditawarkan kepada mahasiswa manajemen. Di sanalah saya menemukan betapa akuntansi begitu powerful maka banyak yang menyebut CFO (Chief of Financial Officer) sebagai The Controller yang tak sesempit pandangan saya saat pertama kali mendapat kabar diterima di jurusan Akuntansi, jurusan yang saya masih amat sangat awam dan abu-abu.

Berikut ini saya akan berbagi tentang Strategic Management. Manajemen stratejik berguna untuk menjembatani berbagai kepentingan divisi sehingga mampu mengarahkan seluruh elemen entitas menuju goal yang ingin dicapai. Keputusan stratejik memiliki tiga ciri, yakni bersifat jangka panjang, membutuhkan sumber daya yang besar, dan melibatkan komitmen seluruh elemen. Contoh strategic decision adalah memutuskan industri mana kita akan bermain, strategi apakah cost leadership atau differentiation. 

Handrick & Friedrickson (2012) menyebutkan 5 elemen utama strategi yaitu (1) arena di mana kita berkompetisi, (2) staging (kapan mau move atau bergerak), (3) differentiation (nilai beda), (4) vehicles (sarana bagaiman untuk mencapainya, how to), dan (5) economic logic. 

Strategic formulation:
1. Misi -> reason for being, alasan memilih tujuan (visi), how and why.
2. Visi -> Close your eyes and think of what you want to be in the future.
3. Strategy -> how to achieve the vision 
4. Policy Kebijakan yang bersifat conditional dan diberikan kepada level fungsional sebagai upaya mengimplementasikan strategi

Sepertinya sharing materi akan kita lanjutkan lain waktu. Mata sudah mulai lelah hehe.