lovely picture

Thursday, October 2, 2014

Percakapan Hujan

Hujan yang jatuh tak pernah benar-benar jatuh. Ia akan tumbuh. Airnya diserap akar pohon. Lalu, ia tumbuh. Hingga benar-benar mekar.
Titik-titik air langit seolah meluncur lepas.
Jatuh bebas.
Syahdu.

Tunggu, ini bukan bulan Juni.
Sama sekali bukan.
Lalu, mengapa rasa-rasanya seperti Hujan Bulan Juni? [1]

Pun ketika menatap langit dan bertanya.
Langit tak benar-benar menjawabnya.
Dia hanya tersenyum dengan seulas pelangi di wajahnya.

Pelangi selepas hujan turun...
Eh, itukah jawabannya?
Aku tak mengerti.
Hei langit, mengapa kau begitu pandai menyimpan rahasia?
Barangkali aku tak cukup mengerti bahasa langit.

Dan, hujan yang jatuh itu...
Kau tahu, kau tak pernah benar-benar jatuh.
Sebab setiap saat kau jatuh, kau akan selalu tumbuh.

Mengapa kau tumbuh?
Karena airmu diserap akar-akar pohon.
Niscaya, kau hidupkan bumi ini.
Jadi kau tahu, kau benar-benar tumbuh.
Kau hanya perlu waktu untuk benar-benar mekar.

Udara membawa pesan dari langit
Seperti radiasi yang menghantarkan
uap hujan kembali mengangkasa

Bukankah bahagia itu sederhana?
Sesederhana percakapan hujan
dan semerbak aroma hujan yang tersisa.
***

Oktober, sudahkah memasuki musim penghujan? Namun, hujan tak kunjung turun. Padahal hujan begitu menenangkan. Dan bukankah salah satu waktu mustajab untuk doa adalah di kala hujan? Lalu, kapan ia akan turun, biarlah menjadi rahasia langit.

Paket buku yang baru sampai pekan ini membuat saya terinspirasi menulis puisi (lagi) setelah beberapa hari lalu menulis juga hehehe. Tidak semua tulisan di-publish di sini. Selain juga ingin melarikan diri sejenak karena sudah lelah mentadaburi Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) yang jumlahnya delapan dengan tingkat bahasa yang oh well...

Ngomong-ngomong, jika akuntansi dan audit memiliki standar dan kode etik, bagaimana dengan puisi? Ada sih semacam... seperti di surat Asy Syuara pernah kok ditulis di blog ini. Tapi yang paling menarik dari puisi ialah bebas untuk diinterpretasi oleh pembaca. Apapun, semoga puisi ini cukup mutiperspektif jadi interpretasinya lebih leluasa bebas deh, mau diartikan apa menyesuaikan keinginan dan kondisi pembaca.

Kalau ingin tahu interpretasi penulis terhadap puisi ini... Biarlah jadi rahasia antara langit dan hujan saja. Hehe. Tidak ada hujan tidak ada apa. Hanya sedang ingin bercakap-cakap dengan hujan. Tapi kok nggak ada hujan ya. Lagi-lagi absurd. Selamat menikmati percakapan dengan hujan (buatan). :)


[1] "Hujan Bulan Juni" puisi karya Sapardi Djoko Damono, 1989

1 comment:

  1. waaaa... aku juga jadi suka puisi itu, hujan :D

    mari kita sama2 merapikan kenangan mb haha

    ReplyDelete