lovely picture

Saturday, August 9, 2014

Kerikil dan Batu-Batu Kecil

Gemetaran. Suaraku bergetar. Tubuh ini tidak lagi bersahabat. Pening sekali. Aku kaget dan sangat menyesal. Baru saja aku memukul meja dan berteriak kencang memecah keramaian yang semakin brutal. “Jika kalian memang tidak mau mengerjakan, bisa kan tenang dan menghormati teman-teman yang ingin mengerjakan?” Apa yang terjadi? Kenapa aku jadi begini?

Anak-anak laki-laki setengah remaja di hadapanku mulai membrutal. Membawa korek api dan mengibaskan apinya seolah api adalah benda yang sangat indah dan membuatnya bangga. Aku menelan ludah. Apa-apaan ini?

Momen-momen yang sangat emosional dan melelahkan. Tentu saja ini bukan pertemuan pertama. Sebelum libuur lebaran, kami sudah pernah bertatap muka. Dan kelas ini kelas V adalah kelas yang paling melelahkan. Anak-anak putrinya sangat rajin sedangkan anak-anak putranya… Kelakuannya na’udzubillah seperti preman.

Aku memaksa mereka menulis. Ya, menulis apapun tentang Lingkungan Sehat. Aku ingin seperti Suhada dalam Matahari di Atas Gilli, dia akan membawa anak-anak Gilli menyusuri keindahan Gilli. Mengeksplorasi alam dan menulisnya dalam kata-kata. Tapi semua desain program itu hanya mimpi. Sekolah ini bahkan tak punya cukup taman hanya beberapa petak tanah dan gedung seadanya. Tingkah mereka seolah-olah anak kota karena jalan raya di hadapan sekolah itu jalan tol uatama penghubung langsung antara dua kota, Jogja dan Magelang. Lalu, dengan kondisi begini melayani mereka tak semudah bayangan ku.

Awalnya aku menolak mengaplikasikan program menulis ini untuk kelas V karena sejak pertama kali masuk di kelas itu untuk sosialisasi menabung dan membuat celengan aku merasa tak sanggup menghadapi anak-anak itu. Lalu, aku ingat Pak Markus wali kelasnya yang sangat sabar dan antusias meminta kami mengajari Matematika, Pramuka, dan muka ramah dan selalu tenang itu. Bagaimana beliau bisa menghadapi anak-anak itu setiap harinya? Sehari setelah berteriak di hadapan mereka aku menyesal sekali. Tapi apa mereka bisa membaca hati nurani? Atau bahkan mereka tak peduli? Bukankah kerasnya batu bisa dilunakkan oleh air yang terus mengalir?

Akhrnya program ini pun tetap dijalankan di kelas V dan VI. Sedih sebenarnya karena sesungguhnya aku berharap lebih dari seperti ini. Sedih karena aku harus menyaksikan bahwa anak-anak itu telah salah mengonsumsi media dan informasi. Apa kau tidak miris ketika menyaksikan betapa liarnya mereka menulis k*mcil, c*u, dst, pada mading yang susah payah dibuatnya? Bahkan aku tidak tahu itu apa sampai temanku memberitahuku. Aku sudah berkaca-kaca saat mereka memberontak. Tidak tahu lagi bagaimana cara meladeni anak seperti itu. Yang jelas aku tidak mau terlihat lemah di hadapan mereka. Karena dengan fisikku yang tampak kecil mereka sudah cukup bersikap keterlaluan. Kami bersusah payah meminta mereka menghapus atau memotong tulisan2 macam itu.

Namun, ada seorang anak di antara grup anak nakal itu yang sungguh-sungguh menulis. Ketulusan itu bisa dibaca dengan hati tentu saja. Maka di akhir program aku memberinya hadiah khusus. Terima kasih ya Nak, jadilah diri sendiri.

Mungkin sejak kejadian itu aku berharap tidak akan kembali ke kelas itu lagi. Tidak akan. Aku tidak mau lagi bertemu dan meladeni mereka. Hari ini entah kenapa tiba-tiba anak-anak itu menghampiriku. Kapan mengisi Kelas V lagi? Dan aku bilang programku tinggal untuk kelas Vi saja. Melihat muka Inggit, Mahes, dan anak-anak lain yang kecewa aku tak tega. Aku pun berkata, “Aku mau mengisi lagi kalo Pak Markus mengijinkan.” Mereka tiba-tiba berlari ke arah ruang guru. Berteriak dari balik jendela kerja pak markus dan kembali kepadaku dengan girang. Boleh Kak boleeeh  kata pak Markus. Boleh? Baiklah.

Aku ingin bercerita tentang Rumah Tanpa Jendela, sebuah judul film yang diangkat dari cerpen Rumah Rara yang ditulis Asma Nadia. Rumah Rara dulu jaman SMP pernah baca di antologi cerpen yang ada di koleksi Perpusda Bantul. Waktu itu asma Nadia belumlah seterkenal sekarang. Harapanku mereka bisa melihat realita antara ketimpoangan yang ada dalam kehidupan. Mereka bisa belajar ketulusan dan kesungguhan dalam meraih cita-cita meski dalam kondisi sekurang apapun.

Aku takjub. Si bosnya geng anak putra itu tiba-tiba jadi antusias  mengikuti. Ada apa gerangan? Malah anak-anak lainnya yg masih ngeyel ga mau ndengerin. Pada akhir kelas aku bagikan sekotak tim tam yg tersimpan di tas untuk yg bisa menjawab pertanyaanku. Mereka terlalu polos atau mereka terlalu cuek sampai tidak mengerti apa makna rumah tanpa jendela? Tidak tahu presiden pertama Indonesia? Miris karena mereka menjawab Soeharto presiden pertam a RI. Tapi aku bangga ada anak laki-laki pendiam di kelas itu yang sepertinya sih sering dianiaya hehe bisa menjawab nama pencipta lagu Indonesia Raya. Sedihnya dia ga bisa jawab 25x4. Lalu aku menyuruhnya menghitung perkalian di depan papan tulisa sampai benar sampai semua anak sudah pulang duluan. Tuh kan bisa kalo berusaha.

Ketika anak-anak berebutan keluar untuk pulang, kami menahannya dan meminta mereka untuk menutup dulu dengan doa. Aku tahu sekali mereka tak saabar utk pulang. Berdoa sekejap berpura-pura seolah sudah berdoa dengan posisi berdoa yang seenaknya, sangatlah tidak khidmat. Tentu saja mereka takkan aku pernolehkan pulang sampai mereka berdoa sungguh sungguh. Akhirnya, bos dari anak-anak itu pun dengan sikap serius memimpin doa. Tahukah Nak, aku terharu. Terima kasih, lelah itu tiba-tiba hilang. Mungkin beginilah perasaan guru-guru kami menghadapi anak-anak yang beraneka ragam.





2 comments: