lovely picture

Sunday, July 8, 2012

Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya

DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA
Karya : Hartoyo Andangjaya

Apakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu

Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga

Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
- horison yang selalu biru bagiku -
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa



Posting-an puisi ini sudah beberapa waktu lalu tapi kesempatan untuk mengulas hal menarik tentang latar belakang saya mem-posting puisi ini ternyata baru datang sekarang. Puisi yang bercerita tentang seorang guru yang ditulis oleh Hartojo Andangjaja bisa dibilang sebuah memori masa kanak-kanak saya yang tiba-tiba terbesit dan membuat saya teramat ingin menyelami dan mendalami maknanya kembali, selayaknya menghirupi embun yang mulai menguap karena hari yang beranjak menua. Well, sejak kecil saya tak pernah terinspirasi untuk bercita-cita menjadi profesional karier semacam dokter, pilot, akuntan, atau sederat profesi lainnya. Satu yang selalu saya katakan saya mau jadi guru. Kenapa ya? Saya juga bingung. Guru terasa sebagai sosok yang amat dekat dengan saya, banyak menginspirasi saya, dan banyak memberikan pengaruh kepada saya. Mungkin benar jika Bapak dan Ibu yang sama-sama guru sedikit banyak berpengaruh tapi jujur dari mereka pula saya menemukan sisi-sisi di mana pandangan saya terhadap dunia pendidikan berbeda dengan pakem, adat, atau tradisi beliau orang tua saya yang telah mengabdi sebagai pendidik sekolah formal di negeri ini. Well, di satu sisi profesi mereka sebagai guru memberikan nilai tersendiri bagi saya terhadap sosok guru, tentu saja. Jika Ibu pernah mengeluh bahwa menjadi guru itu jadwalnya padat, pas liburan tetap masuk, dengan sisi lain yang belakangan setahu saya terdapat kenaikan gaji PNS. On the other hand, di tempat saya belajar sekarang justru menuntut untuk lepas dari ikatan PNS dan menjunjung tinggi entrepreneurship which I do agree it is brilliant and magnificent. However, my concern to the role of teacher and the education itself are above them.

Probably, in the future I'm really dreaming of edu-preneur or writer-preneur, what I'm always fond to be. Wouldnt it be brilliant to combine them into one? Yes, siapakah yang tidak mau mengakui peran seorang guru? Bukankah Bapak Ibu kita adalah guru pertama kita di dunia? Bukankah di setiap orang besar selalu ada sosok yang membesarkan setiap orang besar itu? Tuhan, terimakasih atas pertemuan kepada orang-orang hebat yang telah menjadi guru2 besar saya. Bu Azizah guru Fisika yang membuat saya cinta dan tertantang pada Fisika, Pak Tri Kartika guru saya yang mengajarkan dan menguatkan bahwa saya bisa jika saya mau mencoba terus dan terus, Bu Titin Isna Khad yang membuat saya cinta dg masa kanak2 yang takkan tergantikan, cinta pertama pada sastra, Muthmainnah-Andrea Hirata-Taufik ismail atas tulisan2 novelnya yang luar biasa selalu membuat saya bangkit dg mimpi2 besar, Pak Anies sosok yang amat teduh, penuh pemikiran, dan bijaksana.

Adalah beberapa pengalaman yang sempat saya rasakan yang membuat dilema dan kontroversi tersendiri dalam diri saya terhadap paradigma pendidikan dan sosok guru. Pendidikan yang mengekang, formalitas, penuh kecurangan, kualitas yang dipertanyakan, dan masih banyak lagi. Stigma terhadap guru sebagai pemberi judge atas grade-grade kita, senioritas yang tinggi bahwa guru adalah yang paling benar, aturan yang mengatur siswa namun tidak pada guru, dan masih ada ketimpangan2 lain yang masih terjadi. Apakah seburuk itu? Hmm to tell the truth I found the same facts in some cases though not all of them. Kadang heran juga baca di adb.org yang belakangan sering dibahas masalah shadow education di asia which means lembaga pendidikan non formal yang lebih ke extracurricular; dampak dan efektivitasnya terhadap siswa masih dipertanyakan dan diperbincangkan cukup serius. Pasalnya, esensi pendidikan formal belakangan dikesampingkan. Kualitas pendidikan formal dipertanyakan. Lihatlah berapa banyak bimbingan extra entah dari guru dalam sekolah sendiri ataupun swasta. Bukankah indikasi keefektifan sekolah dipertanyakan.

Lalu, kekangan sistem kependidikan terhadap siswa. Saya ingat menguatarakan hal ini sebagai bahan diskusi di kelas Psikologi dasar. teman saya yang presentasi dan saya tanyai tentang pandangan mereka terhadap pembatasan/pengkutuban jalur keilmuan IPA IPS Bahasa tampaknya sangat berkesan. Selain karena satu2nya penanya juga karena menjadi diskusi yang menarik. Dan Anda benar, saya lambat laun menyadari betapa pengkutuban ini terasa tidak rasional. Seseorang dituntut ahli dalam satu bidang IPA, atau IPS, atau Bahasa. Padahal tak semua orang adalah setia (eh), bukan berarti saya bukan tipe setia toh saya cuma bercanda. Saya hanya melihat suatu harmoni dari berbagai keilmuan terutama yang saya sukai. Tipe orang seperti saya mungkin cenderung setengah2 dalam konsentrasi keilmuan namun di sanalah saya merasakan suatu harmoni. Itulah barangkali yang disebut Islam dengan tawazun! hanya saja tak selamanya kita mampu menuasai semua bidang bukan.. Maka, kecintaan pada bidang2 tertentu itulah yang menjadikan indah dan harmonis. Geografi bukankah ia masuk mapel IPS. kenyataannya di beberapa univ, Geografi makul untuk IPA? Bahasa, itu yang membuat kejenuhan saya hilang. Saya menikmati kelas Bahasa yang selalu membuat penat2 di kepala berkurang.

Pengalaman pribadi nih, saya pikir semakin cepat kuliah semakin baik. Saya sdh cukup merasakan sekolah yang begitu2 saja haha. Saatnya saya bisa lebih menjadi diri saya sendiri terlepas drai kekangan pelajar yang kekanakan. Namun, ternyata banyak hal yang saya temui sebagai mahasiswa yang jauh dari independensi what should be called as freedom of student. Well, teraniaya saat KRS, unsynchronized personal believe and tradisi ospek mos, teraniaya dengan tidak boleh ijin kelas (presensi adalah jika mahasiswa duduk dan hadir di kelas). Padahal saya anti TA dan anti mbolos (sma bolos ke perpus pas kelas XII doang lainnya itu bolos utk kepentingan event seperti kata kakak kelas saya apa gunanya masuk kelas jika sigma F = 0. useless gitu maksudnya. that could be true, but I dont agree all the time. pasalnya, ketika saya sdh hormat respect apalagi ngefans berat sama guru I wont do anything unrespectful, sometimes being present is a gift for them. Tapi entah kenapa realsi ku dg pengajar di tingkat univ saat ini cukup menurun drastis. Dosen menjadi sosok momok, kurang memahami siswanya, tidak transparan dalam menilai, dan endingnya hanya menjadi hakim atas A,B,C,D,E, atau Z nilai kita. Sungguh saya merindukan sosok2 yang lebih dari itu. Menjadi sahabat tepatnya. Hmm you might not agree with me.

Tulisan ini directly written jadi banyak kesalahan dan kekurangan di sana sini. Well, I hope that doesnt bother anyone. Only hope, kesyahduan yang dihantarkan Hartojo Andangjaja tentang sosok seorang guru semoga menginspirasi kita siapapun untuk menjadi sosoknya yang tulus dan teladan. Terima kasih Bapak, terima kasih Ibu, jasamu sungguh mulia :) Trimakasihku ucapkan.


P.S. : Terima kasih Bapak atas pelajaran berharganya. Seburuk apapun yang saya alami, sepahit apapun itu saya percaya adalah rencana dan hasil yang terbaik. I just believe and will always believe that I'm gonna be strong, succeded passing through all the pains and failure. We live for succeeded in facing failure. We succeed when we have passed failing through the struggles right? :)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment